PILIH DIA
Rumah itu terlihat condong
kebarat, beberapa seng merah yang dijadikan atap oleh sipemilik rumah meneriaki
tumpukan karat yang meniduri tubuhnya. Penyangga keropos di sisinya terlihat
lelah oleh pelik kehidupan yang dilalui oleh majikannya tapi ia memilih diam,
membiarkan puluhan rayap menerjemahkan segala situasi tentang dunia yang tak
berpihak pada majikannya. Sementara lumut didinding rumah itu telah menghijau,
menutupi tumpukan lumut tua yang menyimpan cerita dalam kesepian.
Diam. Tak ada yang sanggup
mengangkat suara, rentetan kalimat itu tersumpal oleh masa yang menggantung
suram. Tentang ketakberdayaan, tentang
rumah itu, tentang kemiskinan yang membuat pemiliknya berfikir akan cahaya
digerbang kehidupannya.
Seorang gadis berdiri diambang bayang yang meninggi, mata kelamnya
memandangi rumah itu. sama seperti seng, penyangga dan lumut, mulutnya diam oleh keadaan yang berdiri
condong didepannya. kakinya enggan melangkah tapi berbagai pikiran tentang
dirinya dan pemilik lain rumah itu membuat dia harus kesana.
Gadis itu tak punya pilihan lain,
ia tak memiliki tenaga untuk melawan
segala kekuatan yang menyangkut tentang keadaan yang berdiri kokoh
dibelakangnya. Keadaan yang begitu ingin ia ubah, tidak, ia tak punya hak untuk
mengubah masa lalu, sejarah itu sudah
terlanjur terjadi, meski kelam, meski berat. Segalanya telah terjadi dan dia
hanya bisa mengubah jalannya kedepan. Masa
depan itu tak akan ia samakan dengan masa lalu, ia membuang dirinya, jauh
meninggalkan rumah condong itu untuk pintu yang baru. Untuk masa yang
akan membebaskannya dari kemiskinan, uang.
“kau datang” suara wanita paruh baya terdengar
lembut dibalik pintu.
Gadis itu tersenyum, ia mengangguk menarik koper
hitam menenggelamkan dirinya dalam rumah. Sudah tiga tahun sejak kepergiannya,
tak sekalipun ia menjamakan bayangannya dirumah yang sudah terlalu banyak
menyaksikan berbagai peristiwa tentang dirinya, bagaimana wanita dibalik pintu
itu melahirkannya seorang diri diruang tamu. Tuhan seakan memberi tanda padanya
bahwa dia akan sendiri, dia akan menjalani kehidupannya sendiri dan dia akan
mengubah hidupnya sendiri sama seperti saat ia dilahirkan, bukan karena erangan
wanita itu tapi karena dirinya sendiri
yang mendorong dan menggigit dinding rahim ibunya agar keluar dari kelembapan
yang menahannya sembilan bulan.
Tapi dia datang kerumah condong
itu sesungguhnya bukan untuk meratuki ataupun berterimakasih, dia kesana sebab
sebuah pilihan yang dikatakan seorang lelaki telah melukai jiwanya. Pilihan
yang menyangkut semuanya, dirinya, rumah condong itu, dan masa depan yang
terlanjur indah ia bingkai.
*******
Gadis itu menginjak Jakarta
beberapa hari setelah peringatan hari pahlawan. Ia ke ibukota dengan harapan
dan semangat layaknya pahlawan yang akan berjuang, mempertaruhkan dirinya
dimedan perang. Ia tidak tahu apapun tentang kota itu, ia tidak tahu harus
bagaimana dan akan kemana. Modal nekat membuatnya terlihat seperti ayam yang
baru dibeli dari pasar dan dibawa pulang oleh seseorang, entah akan berakhir
seperti apa. Tapi yang pasti ia sudah menggantung masa depan saat pertama kali
berangkat meninggalkan rumah condong dan ibunya.
“kau masih bisa berubah pikiran
jika kau tidak yakin” lelaki berkacamata
didepanku itu berucap tanpa menoleh.
“aku sudah ada disini ka’,
jadi ka’ Yudha ngga’ usah ngomong gitu”
jawab gadis itu berjalan mengikuti langkah lelaki berkacamata tersebut.
Mereka memasuki sebauh kamar kost
kecil, “selama dikota ini kau akan tinggal disini, ini satu-satunya kamar yang
aku dapat dari DP yang kau berikan, dan kebetulan tempat kostku juga tidak
begitu jauh dari sini” kata lelaki itu lagi lalu meninggalkannya.
Keesokan harinya, Yudha, lelaki
berbadan tinggi itu membawa dia kesebuah restoran, tempat dia melangkah
ketangga masa depannya. Harapannya membumbung. Dia ingin membeli batu untuk
mengganti tembok retak dan kayu penyangga yang baru, dia juga ingin membeli
genteng agar atapnya tidak perlu susah payah berderit ketika dihemps angin. Dan
dia ingin membayar pengorbanan ibunya dengan uangnya.
Dua tahun, waktu berjalan sangat
cepa, tapi dia bahkan tidak berhasil mengumupulkan uang untuk menegakkan
rumahnya yang condong.
“ka’, aku mau pekerjaan tambahan”
katanya saat mereka berjalan bersama sepulang kerja.
Lelaki itu memandangnya, “apa kau
bisa mengatur waktumu?”
Dia mengangguk, “kalau hanya satu
pekerjaan, aku tidak akan bisa membuat Ibu dikampung senang, yahh ... ka’ Yudha
harus mencarikanku pekerjaan”
“akan aku usahakan” katanya.
Yudha memang terlalu baik. Dia
adalah malaikat yang dikirim untuk menjawab keabstrakan masa depannya. Saat dia pulang kampung gadis itu menemuinya
dan mengatakan tentang keadaannya dan dengan senang hati Yudha membantunya, ke
Jakarta, membayar pesawat dan terkadang
membayar uang kostnya saat dia belum menerima gaji.
Meski waktunya terus terbuang
tapi pekerjaan kedua yang diberikan Yudha padanya sedikit membantu,
ditabungannya sudah ada beberapa digit angka, diluar dari tunjangan bulanan
yang ia kirim kekampungnya. Tapi baginya
itu tidak cukup. Hari ini ia kembali menemui Yudha, dia ingin meminta pekerjaan
yang memiliki gaji yang sedikit lebih tinggi.
“maaf tadi aku mengurus pelanggan
dulu, ada apa?” katanya tersenyum.
“ka aku mau pindah kerja, aku mau
bekerja di tempat yang memiliki gaji sedikit tinggi,apa ka’ Yudha punya rekomendasi tempat, sebutkan
saja alamatnya biar aku yang mengurusnya sendiri”
Wajah Yudha berubah masan, dia
menatap wajah gadis itu “apa dikepalamu hanya bisa memikirkan tentang uang?”
katanya membaung pandangan.
“kenapa ka’ Yudha ngomong gitu?”
“Vitha tolong dengarkan aku,
hidup itu bukan selau soal uang, kau bekerja saja disana, jika sudah lama
gajimu akan naik sendiri, hidup dikota ini butuh kesabaran”
“tapi ka’ gajiku itu tidak
cukup!!!” katanya, tapi Yudha sudah lebih dulu pergi. Lelaki itu bosan dengan
percakapan yang menyangkut tentang uang dan Vitha yang pasti tidak akan pernah
berakhir.
Vitha akan selalu bersemangat
jika itu menyangkut uang, dan Yudha sedikit membenci hal tersebut. Dia ingin
Vitha setidaknya memperhatikannya, menjadikannya prioritas bukan uang yang mendadak
menyebakan. Pindah kerja! Untuk pekerjaannya yang kedua saja, Yudha harus
mengorbankan posisinya, menyerahkan pada Vitha tanpa gadis itu tahu, tapi dia
bahkan meminta lebih. Dia bisa, yah Yudha bisa melakukan hal itu untuk gadis
yang diam-diam ia cintai itu, mencarikannya pekerjaan, koneksinya di kota cukup
luas untuk hanya sebuah pekerjaan, tapi kalaupun ia melakukannya Vitha tidak
akan pernah berhenti, ambisinya justru akan semakin besar dan Yudha tidak mau
Vithanya seperti itu. Meski Vitha
mungkin tidak mengerti.
Yudha memandangi Hpnya, cukup
lama, tak ada telepon ataupun sms dari Vitha. Apa dia sungguh marah dan membenciku? Batinnya bertanya-tanya, tapi
tepat saat ibu jarinya ingin memanggil
kontak Vitha, gadis itu menelponenya lebih dulu.
“ka maaf, aku memang salah, tapi
ka’ Yudha ngga usah marah gitu sama aku sampai tidak menelponeku... baik aku
tidak akan merepotkan ka’ Yudha lagi, aku akan mencari pekerjaan baru, aku akan
minta bantuan pada teman kerjaku yang lain”
“Vitha, apa kau bisa berhenti
berbicara tentang hal itu?” Yudha memotong ucapannya.
“memangnya kenapa? kenapa ka’
Yudha sangat membencinya?”
“karena kamu akan keluar dari
dirimu jika membicarakan tentang uang, malam ini saja aku mohon jangan
bicarakan apapun diluar kita, oke aku minta maaf tapi aku tidak bermaksud untuk
menolak keinginanmu, aku hanya tidak ingin kau terlalu bersusah payah, fikirkan
dirimu jika memang kau tidak bisa memikirkan orang lain”
“aku tidak mengerti ka’ Yudha
ngomong apa”
“aku hanya tidak mau kamu
kenapa-napa...”
Malam itu, Yudha mengatakan
segalanya, tentang kekhawatirannya, tentang perasaan yang ia pendam, tentang
segala hal yang menyangkut isi hatinya.
Satu tahun setelah malam itu, dan tiga tahun sejak kepergiannya
meninggalkan ibunya waktu berjalan terlalu cepat. Seperti biasa Yudha menjemputnya sepulang
kerja, mereka makan bersama diwarung soto tidak jauh dari cafe tempat Vitha bekerja. “ada hal yang ingin aku
beritahukan” kata Yudha disela makannya.
Vitha mendongak memandangi
lelakinya.
Yudha menghentikan makannya, ia
meraih tangan Vitha, menatapnya sangat dalam, “mungkin kau akan terkejut
mendengar pengakuanku, tapi aku mohon kau dengarka baik-baik” ucapnya, Vitha
diam “maukah kau menikah denganku, aku tidak punya banyak uang tapi aku bisa
membahagiakanmu dengan cintaku”
Vitha tertawa mendengarnya. Ia
melepas tangan Yudha dari tangannya. “ka’ Yudha ini tidak lucu” katanya
“aku serius Vit, aku sayang sama
kamu dan aku mau kita menikah”
“ka’ belum waktunya... ka’ Yudha
tahukan bagaimana niatku datang kesini, aku mau mengubah nasibku, aku mau
membahagiakan Ibuku, aku bukan mau berleha-leha dengan cinta apalagi
pernikahan”
“maksudmu??”
“aku belum memiliki apapun untuk
aku buktikan pada masa laluku, ka’ Yudha pasti mengerti maksudku”
“apa karena aku buka orang kaya?”
“bukan begitu”
Yudha tertawa kecil menatap tajam
mata Vitha “aku harusnya mengerti dikepalamu memang hanya ada uang, kalau
begitu kenapa kau tak memacari saja orang kaya dan paksa dia untuk mengubah
masa depanmu itu jauh lebih mudah” kata Yudha meninggalkannya.
Vitha diam, tangannya terkepal
mendengar cacian yang diberikan lelakinya itu. bagaimana mungkin orang yang dia
cintai mengatakan hal sekasar itu padanya. Cinta atau uang, setidaknya kalimat
Yudha barusan menyangkut dua hal itu. entah, dia tidak mengerti dari mana
Yudhanya yang lembut mendapatkan kalimat seperih itu, air mata yang sejak terus
ia tahan akhirnya mengalir di pipinya,
muara kesakitan yang bersumber dari lelaki itu.
**********
Vitha berdiri didepan rumahnya,
dua hal itu terus menggantung dikepalanya, UANG atau CINTA. Vitha memandangi
rumah condongnya, hidup memang bukan melulu soal uang, tapi dengan uanglah dia
bisa merasakan hidupnya. Dengan uang dia bisa membalas dendam pada masa
lalunya. Dia mungkin bisa memilih cinta jika saja dia hidup pada drama atau
roman picisan, tapi realitasnya tdiak seperti itu, dia ingin dipandang, dia
ingin keberadaannya dilihat oleh semua orang dan dengan uang dia bisa
menunjukkan eksistensinya bahwa dia ada, mungkin Yudha benar, harusnya dia
menggaet lelaki kaya, anak pejabat, jika perlu
dia akan menggaet pejabatnya, itu adalah jalan pintas yang bisa
mengindahkan hidupnya, tapi toh pada kenyataannya dia tidak melakukan hal itu,
dia memilih Yudha, dia menerima lelaki itu sebagai kekasihnya meski ia tahu
Yudha tidak bisa membawanya menuju
puncak tangga yang ia gapai, tapi ia memilih Yudha sebab hatinya menginginkan hal itu, dan ia sungguh tidak
punya kuasa mengubah arah hatinya, meski saat ini lelaki itu telah berhasil
melukaai perasaannya tapi tetap saja hatinya rindu akan lelaki kacamata tinggi itu.
“Uang atau Cinta, ibu pilih yang
mana?”
Ibunya yang baru datang dari
dapur duduk sembari menyimpan siingkong rebus didepan Vitha “Uang, tentu saja,
kita bisa membei segalanya dengan itu” kata ibunya tersenyum “tapi ada beberapa
hal yang tidak bisa dibeli oleh uang dan itu hanya bisa dibeli oleh Cinta,
meski kau tidak punya uang, kau akan tetap merasa bahagia, dengan cinta kau
akan lebih mudah mendapat uang”
Ini yang Vitha cari dari
kepulangannya, meski dia masih harus memikirkannya tapi dia tahu pilihan apa
yang harus ia ambil, Vitha memeluk Ibunya. “terimakasih” bisiknya mengeratkan
pelukannya di tubuh sang Ibu.
The End
Blog
post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana:
Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com