Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 November 2015

cerpen (PILIH DIA)



 PILIH DIA

Rumah itu terlihat condong kebarat, beberapa seng merah yang dijadikan atap oleh sipemilik rumah meneriaki tumpukan karat yang meniduri tubuhnya. Penyangga keropos di sisinya terlihat lelah oleh pelik kehidupan yang dilalui oleh majikannya tapi ia memilih diam, membiarkan puluhan rayap menerjemahkan segala situasi tentang dunia yang tak berpihak pada majikannya. Sementara lumut didinding rumah itu telah menghijau, menutupi tumpukan lumut tua yang menyimpan cerita dalam kesepian.  
Diam. Tak ada yang sanggup mengangkat suara, rentetan kalimat itu tersumpal oleh masa yang menggantung suram.  Tentang ketakberdayaan, tentang rumah itu, tentang kemiskinan yang membuat pemiliknya berfikir akan cahaya digerbang kehidupannya.
Seorang gadis berdiri diambang  bayang yang meninggi, mata kelamnya memandangi rumah itu. sama seperti seng, penyangga dan lumut,  mulutnya diam oleh keadaan yang berdiri condong didepannya. kakinya enggan melangkah tapi berbagai pikiran tentang dirinya dan pemilik lain rumah itu membuat dia harus kesana.
Gadis itu tak punya pilihan lain, ia tak memiliki tenaga untuk  melawan segala kekuatan yang menyangkut tentang keadaan yang berdiri kokoh dibelakangnya. Keadaan yang begitu ingin ia ubah, tidak, ia tak punya hak untuk mengubah masa lalu,  sejarah itu sudah terlanjur terjadi, meski kelam, meski berat. Segalanya telah terjadi dan dia hanya bisa mengubah jalannya kedepan.  Masa depan itu tak akan ia samakan dengan masa lalu, ia membuang dirinya, jauh meninggalkan rumah condong itu untuk pintu yang baru. Untuk  masa yang  akan membebaskannya dari kemiskinan, uang.
 “kau datang” suara wanita paruh baya terdengar lembut dibalik pintu.
Gadis  itu tersenyum, ia mengangguk menarik koper hitam menenggelamkan dirinya dalam rumah. Sudah tiga tahun sejak kepergiannya, tak sekalipun ia menjamakan bayangannya dirumah yang sudah terlalu banyak menyaksikan berbagai peristiwa tentang dirinya, bagaimana wanita dibalik pintu itu melahirkannya seorang diri diruang tamu. Tuhan seakan memberi tanda padanya bahwa dia akan sendiri, dia akan menjalani kehidupannya sendiri dan dia akan mengubah hidupnya sendiri sama seperti saat ia dilahirkan, bukan karena erangan wanita itu tapi karena dirinya sendiri  yang mendorong dan menggigit dinding rahim ibunya agar keluar dari kelembapan yang menahannya sembilan bulan.
Tapi dia datang kerumah condong itu sesungguhnya bukan untuk meratuki ataupun berterimakasih, dia kesana sebab sebuah pilihan yang dikatakan seorang lelaki telah melukai jiwanya. Pilihan yang menyangkut semuanya, dirinya, rumah condong itu, dan masa depan yang terlanjur indah ia bingkai.
*******
Gadis itu menginjak Jakarta beberapa hari setelah peringatan hari pahlawan. Ia ke ibukota dengan harapan dan semangat layaknya pahlawan yang akan berjuang, mempertaruhkan dirinya dimedan perang. Ia tidak tahu apapun tentang kota itu, ia tidak tahu harus bagaimana dan akan kemana. Modal nekat membuatnya terlihat seperti ayam yang baru dibeli dari pasar dan dibawa pulang oleh seseorang, entah akan berakhir seperti apa. Tapi yang pasti ia sudah menggantung masa depan saat pertama kali berangkat meninggalkan rumah condong dan ibunya.
“kau masih bisa berubah pikiran jika kau tidak yakin”  lelaki berkacamata didepanku itu berucap tanpa menoleh.
“aku sudah ada disini ka’, jadi  ka’ Yudha ngga’ usah ngomong gitu” jawab gadis itu berjalan mengikuti langkah lelaki berkacamata tersebut.
Mereka memasuki sebauh kamar kost kecil, “selama dikota ini kau akan tinggal disini, ini satu-satunya kamar yang aku dapat dari DP yang kau berikan, dan kebetulan tempat kostku juga tidak begitu jauh dari sini” kata lelaki itu lagi lalu meninggalkannya.
Keesokan harinya, Yudha, lelaki berbadan tinggi itu membawa dia kesebuah restoran, tempat dia melangkah ketangga masa depannya. Harapannya membumbung. Dia ingin membeli batu untuk mengganti tembok retak dan kayu penyangga yang baru, dia juga ingin membeli genteng agar atapnya tidak perlu susah payah berderit ketika dihemps angin. Dan dia ingin membayar pengorbanan ibunya dengan uangnya.
Dua tahun, waktu berjalan sangat cepa, tapi dia bahkan tidak berhasil mengumupulkan uang untuk menegakkan rumahnya yang condong.
“ka’, aku mau pekerjaan tambahan” katanya saat mereka berjalan bersama sepulang kerja.
Lelaki itu memandangnya, “apa kau bisa mengatur waktumu?”
Dia mengangguk, “kalau hanya satu pekerjaan, aku tidak akan bisa membuat Ibu dikampung senang, yahh ... ka’ Yudha  harus mencarikanku pekerjaan”
“akan aku usahakan” katanya.
Yudha memang terlalu baik. Dia adalah malaikat yang dikirim untuk menjawab keabstrakan masa depannya.  Saat dia pulang kampung gadis itu menemuinya dan mengatakan tentang keadaannya dan dengan senang hati Yudha membantunya, ke Jakarta,  membayar pesawat dan terkadang membayar uang kostnya saat dia belum menerima gaji.
Meski waktunya terus terbuang tapi pekerjaan kedua yang diberikan Yudha padanya sedikit membantu, ditabungannya sudah ada beberapa digit angka, diluar dari tunjangan bulanan yang ia kirim kekampungnya.  Tapi baginya itu tidak cukup. Hari ini ia kembali menemui Yudha, dia ingin meminta pekerjaan yang memiliki gaji yang sedikit lebih tinggi.
“maaf tadi aku mengurus pelanggan dulu, ada apa?” katanya tersenyum.
“ka aku mau pindah kerja, aku mau bekerja di tempat yang memiliki gaji sedikit tinggi,apa  ka’ Yudha punya rekomendasi tempat, sebutkan saja alamatnya biar aku yang mengurusnya sendiri”
Wajah Yudha berubah masan, dia menatap wajah gadis itu “apa dikepalamu hanya bisa memikirkan tentang uang?” katanya membaung pandangan.
“kenapa ka’ Yudha ngomong gitu?”
“Vitha tolong dengarkan aku, hidup itu bukan selau soal uang, kau bekerja saja disana, jika sudah lama gajimu akan naik sendiri, hidup dikota ini butuh kesabaran”
“tapi ka’ gajiku itu tidak cukup!!!” katanya, tapi Yudha sudah lebih dulu pergi. Lelaki itu bosan dengan percakapan yang menyangkut tentang uang dan Vitha yang pasti tidak akan pernah berakhir.
Vitha akan selalu bersemangat jika itu menyangkut uang, dan Yudha sedikit membenci hal tersebut. Dia ingin Vitha setidaknya memperhatikannya, menjadikannya prioritas bukan uang yang mendadak menyebakan. Pindah kerja! Untuk pekerjaannya yang kedua saja, Yudha harus mengorbankan posisinya, menyerahkan pada Vitha tanpa gadis itu tahu, tapi dia bahkan meminta lebih. Dia bisa, yah Yudha bisa melakukan hal itu untuk gadis yang diam-diam ia cintai itu, mencarikannya pekerjaan, koneksinya di kota cukup luas untuk hanya sebuah pekerjaan, tapi kalaupun ia melakukannya Vitha tidak akan pernah berhenti, ambisinya justru akan semakin besar dan Yudha tidak mau Vithanya seperti itu. Meski Vitha  mungkin tidak mengerti.
Yudha memandangi Hpnya, cukup lama, tak ada telepon ataupun sms dari Vitha. Apa dia sungguh marah dan membenciku? Batinnya bertanya-tanya, tapi tepat saat  ibu jarinya ingin memanggil kontak Vitha, gadis itu menelponenya lebih dulu.
“ka maaf, aku memang salah, tapi ka’ Yudha ngga usah marah gitu sama aku sampai tidak menelponeku... baik aku tidak akan merepotkan ka’ Yudha lagi, aku akan mencari pekerjaan baru, aku akan minta bantuan pada teman kerjaku yang lain”
“Vitha, apa kau bisa berhenti berbicara tentang hal itu?” Yudha memotong ucapannya.
“memangnya kenapa? kenapa ka’ Yudha sangat membencinya?”
“karena kamu akan keluar dari dirimu jika membicarakan tentang uang, malam ini saja aku mohon jangan bicarakan apapun diluar kita, oke aku minta maaf tapi aku tidak bermaksud untuk menolak keinginanmu, aku hanya tidak ingin kau terlalu bersusah payah, fikirkan dirimu jika memang kau tidak bisa memikirkan orang lain”
“aku tidak mengerti ka’ Yudha ngomong apa”
“aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa...”
Malam itu, Yudha mengatakan segalanya, tentang kekhawatirannya, tentang perasaan yang ia pendam, tentang segala hal yang menyangkut isi hatinya.
Satu tahun setelah  malam itu, dan tiga tahun sejak kepergiannya meninggalkan ibunya waktu berjalan terlalu cepat.  Seperti biasa Yudha menjemputnya sepulang kerja, mereka makan bersama diwarung soto tidak jauh dari  cafe  tempat Vitha bekerja. “ada hal yang ingin aku beritahukan” kata Yudha disela makannya.
Vitha mendongak memandangi lelakinya.
Yudha menghentikan makannya, ia meraih tangan Vitha, menatapnya sangat dalam, “mungkin kau akan terkejut mendengar pengakuanku, tapi aku mohon kau dengarka baik-baik” ucapnya, Vitha diam “maukah kau menikah denganku, aku tidak punya banyak uang tapi aku bisa membahagiakanmu dengan cintaku”
Vitha tertawa mendengarnya. Ia melepas tangan Yudha dari tangannya. “ka’ Yudha ini tidak lucu” katanya
“aku serius Vit, aku sayang sama kamu dan aku mau kita menikah”
“ka’ belum waktunya... ka’ Yudha tahukan bagaimana niatku datang kesini, aku mau mengubah nasibku, aku mau membahagiakan Ibuku, aku bukan mau berleha-leha dengan cinta apalagi pernikahan”
“maksudmu??”
“aku belum memiliki apapun untuk aku buktikan pada masa laluku, ka’ Yudha pasti mengerti maksudku”
“apa karena aku buka orang kaya?”
“bukan begitu”
Yudha tertawa kecil menatap tajam mata Vitha “aku harusnya mengerti dikepalamu memang hanya ada uang, kalau begitu kenapa kau tak memacari saja orang kaya dan paksa dia untuk mengubah masa depanmu itu jauh lebih mudah” kata Yudha meninggalkannya.
Vitha diam, tangannya terkepal mendengar cacian yang diberikan lelakinya itu. bagaimana mungkin orang yang dia cintai mengatakan hal sekasar itu padanya. Cinta atau uang, setidaknya kalimat Yudha barusan menyangkut dua hal itu. entah, dia tidak mengerti dari mana Yudhanya yang lembut mendapatkan kalimat seperih itu, air mata yang sejak terus ia tahan akhirnya mengalir di pipinya,  muara kesakitan yang bersumber dari lelaki itu.
**********
Vitha berdiri didepan rumahnya, dua hal itu terus menggantung dikepalanya, UANG atau CINTA. Vitha memandangi rumah condongnya, hidup memang bukan melulu soal uang, tapi dengan uanglah dia bisa merasakan hidupnya. Dengan uang dia bisa membalas dendam pada masa lalunya. Dia mungkin bisa memilih cinta jika saja dia hidup pada drama atau roman picisan, tapi realitasnya tdiak seperti itu, dia ingin dipandang, dia ingin keberadaannya dilihat oleh semua orang dan dengan uang dia bisa menunjukkan eksistensinya bahwa dia ada, mungkin Yudha benar, harusnya dia menggaet lelaki kaya, anak pejabat, jika perlu  dia akan menggaet pejabatnya, itu adalah jalan pintas yang bisa mengindahkan hidupnya, tapi toh pada kenyataannya dia tidak melakukan hal itu, dia memilih Yudha, dia menerima lelaki itu sebagai kekasihnya meski ia tahu Yudha tidak bisa membawanya menuju  puncak tangga yang ia gapai, tapi ia memilih Yudha sebab hatinya  menginginkan hal itu, dan ia sungguh tidak punya kuasa mengubah arah hatinya, meski saat ini lelaki itu telah berhasil melukaai perasaannya tapi tetap saja hatinya rindu akan lelaki kacamata  tinggi itu.
“Uang atau Cinta, ibu pilih yang mana?”
Ibunya yang baru datang dari dapur duduk sembari menyimpan siingkong rebus didepan Vitha “Uang, tentu saja, kita bisa membei segalanya dengan itu” kata ibunya tersenyum “tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli oleh uang dan itu hanya bisa dibeli oleh Cinta, meski kau tidak punya uang, kau akan tetap merasa bahagia, dengan cinta kau akan lebih mudah mendapat uang”
Ini yang Vitha cari dari kepulangannya, meski dia masih harus memikirkannya tapi dia tahu pilihan apa yang harus ia ambil, Vitha memeluk Ibunya. “terimakasih” bisiknya mengeratkan pelukannya di tubuh sang Ibu.
The End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Jumat, 18 April 2014

cerpen, with litle "Ayah, maaf"

Butuh keberanian tingkat dewa untuk aku pribadi mempost tulisan ini, tapi harus sampai kapan lembaran coretan ini jadi penjaga di NB,  well walau sebenarnya malu dan sedikit keraguan aku memberanikan diri mempost tulisanku yang Alhamdulillah original dari  tangan dan pikiranku. Happy reading, dan semoga ngga’ membosankan… JJJ
Ayah, maaf
Setiap kali melihat wajahnya hanya ada kebencian yang dapat tertangkap didalam retinaku.  Dia yang hadir begitu saja dihadapanku sekarang. telah meriplay kembali kenangan terpahit didalam hidupku. setelah ia menorehkan luka selama 10 tahun. kini kembali mengorek luka yang sudah hampir mengering itu. ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahnya  melmparkannya kedalam kerumunan anjing-anjing lapar. Namun aku tidak bisa menolak kehadirannya saat ini dihadapanku. walau hatiku terasa sangat perih, tapi dia datang dengan pesan seorang pria yang telah ia tiduri dan hancurkan rumah tangganya. Yang membuat perasaanku betul-betul berkecamuk.
 Aku adalah Meli, wanita 25 tahun yang bekerja disebuah supermarket sebagai kasir.  sudah sepuluh tahun aku berusaha melupakan semua kepahitan ini. Namun sampai sekarang kejadian itu masih sangat jelas terekam diotakku.
 Saat itu umurku baru 15 tahun. sudah beberapa minggu sikap Ayah berubah.  Dia lebih dingin, dan lebih pemarah. Hampir setiap hari aku mendapati Ayah dan Ibu bertengkar. Entah apa yang membuat Ayah berubah seperti itu. dia yang awalnya baik-baik saja berubah 1800 . walau masalah kecil, mereka tetap saja bertengkar. Mungkin sudah tidak ada kecocokan di antara  mereka. Tapi kenapa baru sekarang..? jika memang masalahnya adalah  ketidak cocokan  maka sudah dari dulu mereka bercerai.  Entahlah. aku hanya bisa meng-essai pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Menutup telinga didalam kamar berusaha tuli dengan semua pertengkaran mereka.
Aku baru pulang dari sekolah. Panas. Menggeruguti seluruh tubuhku. Aku melangkahkan kaki meraih pintu kulkas, tapi langkahku terhenti saat mendengar jeritan Ibu didalam kamar. Dengan sisa tenanga aku berlari menghampirinya.
“mungkin mereka bertengkar lagi…” pikirku  sebelum menarik ganggang pintu.
Tapi tak ada suara Ayah didalam kamar. Hanya jeritan Ibu yang meronta-ronta digendang telingaku. Perlahan aku memutar ganggang pintu. kulihat Ibu duduk dilantai memegangi selembar kertas. Yang tak aku tahu apa isi dan maksud kertas itu. yang jelas sekarang aku melihat seorang wanita yang telah mempertaruhkan hidup matinya untukku. Menangis,  tak berdaya, dengan mata yang sudah bengkak. Sungguh aku lebih baik mati dari pada harus melihat Ibu menangis seperti itu. aku mendekap tubuh Ibu yang sudah hampir tumbang. Memeluknya sangat erat. Membagi kesedihannya.
Seminggu kemudian aku baru tahu. Bahwa, Surat yang ada digenggaman Ibu adalah surat cerai. Ayah menceraikannya.  Ayah ingin memutuskan tali pernikahannya dengan Ibu. Tapi kenapa..? apa yang membuat Ayah ingin menceraikan Ibu setelah lima belas tahun hidup bersama..? aku sungguh tak habis pikir.
Dan lagi-lagi pertanyaan itu menguap begitu saja. Ibu ataupun aku sama-sama tak mengetahui jawabannya kami hanya terdiam didalam kebingungan menerima semua kenyataannya walau dengan hati yang sangat berat dan sakit.
***
“Hey ko’ ngelamun..?” Ari membuyarkan lamunanku menanti barang yang tak kunjung datang.
Supermarket tempatku bekerja terbilang besar. Ada lima meja kasir  yang dijagai oleh dua pegawai. Satu orang untuk menjumlahkan barang dan satu orangnya lagi untuk memasukkannya kedalam kantung kresek. Dan itulah pekerjaan Ari. Memasukkan belanjaan pelanggan yang sudah aku hitung. Selain sebagai rekan kerja, Ari juga adalah sahabatku. Dia yang memasukkanku bekerja disupermarket ini. kita sudah berteman sejak kecil. dari dulu dialah yang selalu menjagaku. Menemaniku. Melindungiku. Bagiku dia bukan lagi sekedar sahabat tapi dia adalah saudara. saudara sekandungku.
“ngg’ apa-apako” kataku kembali menjumlah sisa belanjaan yang ada dihadapanku.
Antrian hari ini cukup ramai. Aku sudah memberi kode kepada Ari untuk lebih gesit mengatur belanjaan. Seperti biasa dia selalu membalas semua perkataannku dengan sekali anggukan. Setelah pelanggan pertama sudah membayar, pelanggan kedua langsung menggantikan posisinya.
Orang itu mulai menaikkan beberapa belanjannya dihadapanku. Aku sungguh terperangah mlihat wajah pelanggan yang ingin membayar belanjaannya itu. berkali-kali kukedipkan mata berharap aku hanya salah lihat. tapi orang itu terus menatap seakan meyakinkan premisku bahwa dia memang orang yang paling tidak ingin aku lihat sampai aku mati. yang  selalu menyapa pikiranku disaat sedang tak terisi.  Tapi aku masih berharap  semoga aku salah lihat. ternyata tidak…!!! Setelah membayar belanjaannya. Dia memberiku selembar kertas…
“kamu pasti masih ingat sama saya…  ada hal penting yang ingin saya bicarakan, menyangkut Ayah kamu… saya tunggu kamu besok dikafe depan super market ini. jam 9 pagi…” tanganku terasa bergetar memegangi secarik kertas yang hanya berisikan beberapa kalimat namun cukup membuatku hancur hanya dalam sedetik.
Ya tuhan, mimpi apa aku semalama.. kenapa dia datang lagi dalam hidupku.. apa yang harus aku lakukan..? apa aku harus menemuinya sesuai yang ada disuratnya…? Tapi hati ini masih sakit mengingat semua perlakuannya kepadaku dan Ibu…
***
Hari ini aku harus pulang cepat. Karena kemarin aku baru gajian, seperti biasa sehari setelah gajian Ibu akan membuatkan makanan enak untuk kami santap bersama sebagai makan malam. tapi pikiranku hari ini tak seperti biasanya. Aku sungguh tidak bisa tenang. pikiranku terus berputar kesurat yang tadi kubaca.
Seperti yang aku katakana tadi. Ibu sudah lama menungguku dimeja makan dengan hidangan spesialnya. Apalagi kalo bukan opor ayam dan sambel buatan Ibu. ditambah segaris senyum dibibirnya yang sudah mulai keriput. Senyum yang dulu sempat pergi entah kemana…
“ayo duduk.. Ibu sudah masak enak buat kamu, sekarang waktunya kita makan…!!!” Ibu menyendokkan nasi kedalam piringku.
makanan ini tak bisa melewati tenggoranku. Pikiranku terus melayang kesurat itu…
“kamu kenapa nak…?” tanya Ibu menghentikan makannya. Melihatku hanya mengaduk nasi.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyannya. Hanya sebuah senyum yang membalas  kekhawatiran beliau.
“bu’ aku kekamar duluan  yah… mau istrahat capek…!” kataku meningalkannya yang mulai memberaskan dan membersihkan piring.
Semua lembaran pahit masa lalu seakan terbuka kembali oleh secarik kertas siang tadi.
***
Kertas itu masih seetia menempel ditanganku. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika aku tidak datang, maka aku akan mati penasaran . Tapi kalaupun iya aku harus pergi menemuinya, apa yang nanti akan aku dapatkan..? aku yang sudah capek-capek kesana toh ternyata dia hanya ingin memeberitahukan bahwa kini mereka hidup bahagia bersama anak-anak mereka. Yang ada aku hanya akan menamparnya. Aku tidak bisa memecahkan ini. tak ada pilihan lain. Aku meraih handphone menekan-nekan beberapa nomor lalu memanggilnya.
“halo,, ri’ bisa kerumah aku sekarang ngga …?” kataku saat panggilanku sudah tersambung.
“emangnya kenapa.?”
“udah kesini ajha penting…!”
Beberapa saat kemudian dia sudah ada didepan rumahku. Jarak rumah kami relative dekat. Jadi  tidak membutuhkan waktu lama untuknya segera sampai dirumah.
“ada apa sih sebenarnya..?” tanya Ari duduk dihadapanku.
Aku menyerahkan secarik kertas yang seharian mengangguku. Ari muai membaca kalimat dikertas itu.
“ini dari siapa…?”
“itu dari selingkuhan Ayah aku ri, apa yang harus aku lakukan..?”
“kalo saran aku sih sebaiknya kamu pergi saja. Syapa tau ajha ada hal yang sangat penting yang ingin dia beri tahu.!”
“tapi berat banget..  liat wajah dia ajha hati aku rasanya sakit banget..!”
Setelah menceraikan Ibu. Ayah sudah tidak pernah lagi pulang kerumah. Apalagi menengok kami. Sejak saat itu pula kondisi Ibu drop. Dia jatuh sakit.  Aku akhirnya membawa beliau kerumah sakit untuk berobat. Tapi saat kami sampai di depan UGD. Seorang pria berlalu dihadapan kami membuat kesadaran Ibu hilang. Dia berlalu dengan seorang wanita. Tangannya melingkar mesra dipunggung wanita itu. Rona wajah mereka terlihat sangat bahagia. Mungkin karena perut wanita itu yang membuncit. Entah sudah berapa lama usia kandungannya dan kapan mereka menghalalkan hubungan mereka. Yang jelas sebuah jawaban yang sudah beberapa minggu kucari akhirnya terhampar didepan mataku.
Itulah alasan mengapa Ayah menceraikan Ibu. Dia selingkuh dengan wanita lain. Wanita yang hampir mendekati usiaku saat itu.  langit seakan runtuh menghantamku. kakiku bahkan tak sanggup lagi terangkat. Sepertinya sebentar lagi aku yang akan dibawa ke UGD.
“Ayah..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku mengiringi air mata yang terus berderai dipipiku.
Mereka berdua menengok kearahku. Namun tidak menghampiriku, mereka bahkan berlalu begitu saja seolah tidak mengenal aku. seoalah aku adalah orang bodoh yang salah memanggil orang. Ingin rasanya aku segera pingsan. Tapi aku terus berusaha kuat. Menahan keseimbangan diriku agar tidak tumbang. Karena Ibu sudah lebih dulu melakukan itu. dengan bantuan perawat aku membawa Ibu ke UGD.  Ibu dirawat seminggu dirumah sakit. Karena stres dan shock berat yang dialami otaknya. Bagaimana dia tidak shock,  dia yang sangat  mencintai Ayah, harus rela melepasnya dan membiarkan kami seperti orang asing baginya. Walau sebelum bercerai sering terjadi pertengkaran diantara mereka, tapi tidak sedikit kenangan indah yang tercatat  selama  limabelas tahun. Dan mengapa dia harus meperlakukan kami seperti itu aku adalah darah daginngnya, walaupun dia mencuciku dengan seluruh air di bumi, darahnya tetap mengalir didarahku.
“tapi mel, ngg’ mungkin kan dia mau repot-repot dari Surabaya ke Makassar  kalo bukan untuk menyampaikan sesuatu yang  penting…?”
“iy juga sih, tapi ngg’ mungkinlah aku mau menemui dia, enak ajha dia dengan suksesnya menghancurkan keluarga saya, saat dia butuh dia dengan seenaknya menemui saya…”
“tapi bener kata Ari!”
Aku terkejut mendengar suara Ibu yang masuk ketengah perbincanganku dan Ari. Hal yang paling tidak aku harapkan. Entah sudah berapa lama Ibu berdiri disitu. Yang jelas dia sudah mendengar semua yang tidak ingin aku dengarkan.
“bagaimanapun kamu harus menemuinya, jangan perdulikan apa yang akan kamu dengar nantinya.” lanjutnya
Aku menghambur kepelukan Ibu. Memeluknya sangat erat. Walau sebuah solusi sudah masuk ketelingaku, tapi batinku masih tetap tak menentu. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk nalar dan hatiku bertengkar.
Ari menggam kedua tanganku “aku akan menemani kamu mel”
***
Pagi kembali menyapa, matahari seakan tersenyum lebar melihatku pagi in. tidak seperti biasa, pagi ini mataku sangat sulit untuk terbka. Bukan karena penafsiraku ternyata betul, tapi  karena yah, hari ini adalah hari yang membuatku mual kemarin.
Ibu memaksaku bangun. Didukung pula oleh kedatangan Ari yang sudah ada didepan. Tak membutuhkan waktu lama untuku selesai berpakaian. Pagi ini aku bebas pergi, karena aku dan Ari sedang Off. seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Alam sangat mendukung pertemuan hari ini.
Wanita itu tampak duduk dimeja kedua dari pintu. segelas jus alvokad tersedia dihadapannya. Baju biru bermotif bunga membuatnya tampak sangat cantik, ditambah lagi senyum yang melengkung diwajahnya yang masih sangat kencang saat melihatku dan Ari berdiri diambang pintu. dengan wajah lusuh, aku duduk dihadapannya.
“kamu mau pesan apa..? biar saya pesankan…!” wanita itu menyapaku dengan suaranya yang tampak renyah.
Sok akrab, nyebelin banget sih dumelku dalam hati , Ari yang sudah melihat perubahan diwajahku sejak  tadi mencubit tanganku.
“apa’an sih sakit tau..!” ketusku menatapnya jengkel
“kalian mau pesan apa..!?” tanyanya  sekali lagi.
“ngg’ usah basa-basi degh, langsung keintinya saja”
Dia mendehem cukup keras saat mendengar penuturanku barusan. “saya tahu pasti kamu sangat membenci saya, tapi…” waita itu menggantung ucapannya. Membuatku menyatukan alis “tapi… apa bisa kamu memaafkan Ayahmu..” lanjutnya.
“maksud kamu..?” tanyaku tak mengerti
“sudah enam bulan dia sekarat, akibat kecelakaan… seminggu lalu, keadaannya makin droup, dia kembali koma. Selama druop itu dia terus memanggil nama kamu… jadi saya pikir untuk mempertemukan kalian. Mungkin dengan  melihat kamu keadaannya bisa membaik..!” butiran air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Aku tersentak mendengar penuturannya. Tapi aku dengan cepat menguasai diriku, agar tidak terlihat lemah dihadapannya.
“jadi mau kamu apa..?” tanyaku
“saya ingin membawa kamu kesurabaya, menemui Ayah kamu…”  katanya lagi.
“ngg’… sampai kapanpun aku ngg’ mau menemui dia…! Biarkan saja dia mati” kataku dengan nada cukup tinggi.
Raut kesedihan tergambar jelas diwajahnya, senyum yang  tadi disajikan untukku kini betul-betul hilang. Dia turun dari kursinya dan duduk “tapi bagaimanapun dia adalah Ayah kamu, kamu darah daging dia, kamu anaknya?” dia menangis sesegukan
“apa kamu bilang, anaknya?” tanyaku getir “kemana saja dia selama ini, sepuluh tahun dia menelentarkan aku dan Ibu, sepuluh tahun dia menggap kami bagai bagai orang asing, dan sekarang kamu mau bilang dia adalah Ayahku, tidak. Ayahku sudah mati” kataku akhirnya menangis
Aku menarik Ari yang sejak tadi tidak bersuara di kursinya “ayo kita pulang, aku capek disini!!!” kataku.
“tapi mel??”
“ayo…!!!!” bentakku menghentikan responnya.
***
Aku langsung masuk kedalam kamar, tak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan ibu. Aku tidak ingin, Ibu mengetahu semua ini. Aku takut Ibu malah semakin menderita mendengarnya, yah sampai detik ini yang aku tahu, Ibu masih sangat mencintainya, foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding kamarnya, aku tidak ingin Ibu kembali menumpahkan air mata karena dia, cukup aku hari ini.
Ketukan Ibu menghentikan laju kesakitanku yang ku keluarkan di kedalaman bantal. Ibu menghambur kepelukanku saat melihatku berdiri di ambang pintu, “tamui dia nak, bagaimanapun dia adalah Ayahmu?” katanya menangis.
Argh aku mencerit dalam kesal dalam hati, pasti ini ulah Ari, dia memberitahukan semuanya ke Ibu, kenapa dia memberitahukan semua itu, padahal aku sudah melarannya.  Aku menepis  dekapan Ibu. Tidak.
“sampai kapanpun dan apapun yang terjdi aku tidak akan pernah mau menemuinya, dia terlalu kejam untuk di sebut sebagai Ayah, tidak bu’, tidak. Sekalpun dia harus mati”
“kenapa kamu jadi seperti ini, bagaimanapun dia adalah Ayahmu, dan kamu tidak bisa mengubah kenyataan itu” Ibu menelan kesakitan yang tertinggal di lehernya “demi Ibu nak, temui dia, sekali ini saja, Ibu mohon” pelas ibu memegang tanganku.
Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah tatapan memelas Ibu. sorot matanya kembali seperti saat sepuluh tahun lalu, saat dia terbaring di rumah sakit penuh kesakitan, keperihan dan tidak berdaya.
***
Aku berdiri di depan sebuah ruangan, kakiku seperti tergantung besi seribu ton, sangat berat untuk melangkah. Tapi wanita itu menarikku. Tampak seorang lelaki terbaring di atas ranjang, badannya di penuhi kabel-kabel yang tidak aku mengerti, di tangannya tergantung infus, sedang di hidungnya hinggap selang pernafasan. Aku getir melihat tubuhnya yang begitu kurus, dengan mata yang sudah hampir tenggelam. Wanita itu menatapku dengan Isyarat aku harus mendekatinya sementara dia berdiri di dekat pintu, tapi kaki ini mengapa masih sangat berat melangkah.
Tanganku gemetar menyentuhnya, suaraku lenyap. Apa ini? Siapa orang yang terbaring bagai mayat ini? apa dia Ayah? Lalu kemana badan besar yang selalu di kagumi ibu? aku meneteskan air mata, tak kuat. Melihatnya.
“Mely… Meli…. Meli….” Katanya berulang-ulang kali. mengigau
Aku semakin tidak kuat, “iya, ini meli, meli ada di sini?” kataku, tapi dia masih tidak berhenti menyebut namaku.
Aku tidak sanggup, ternyata ini tidak semudah yang aku bayangkan. Kondisi Ayah sukses mencabit-cabit perihku. Di saat bersamaan dia kembali memanggil namaku. Aku tidak kuasa, aku kembali ke sisinya
“iya Ayah ini Meli, Meli ada di dekat Ayah sekarang” kataku
Perlahan mata Ayah terbuka.  Aku segera menghapus butiran kristal itu dari pipiku. “Meli??” katanya terkejut
“iya Ayah ini Meli” kataku memegang tangannya.
“Ayah,,,, Ayah…” matanya basah seketika “Maafkan Ayah nak, maafkan Ayah”
Aku membuang muka, mencoba menanam kembali air mata yang nyaris kembali keluar itu “iya, yang penting saat ini Ayah harus sembuh dulu!”
“tidak nak, maafkan Ayah, Ayah berdosa pada kamu dan ibumu, Ayah jahat telah menelantarkan kalian, Ayah…” Ayah sesegukan di ranjangnya “Ayah pantas mati di tangan kalian??”
“ssttt, Ayah dengar, Meli sama Ibu sudah memafkan Ayah, tapi Ayah harus sembuh, Ayah harus kembali seperti Ayah yang Meli lihat dulu, bukan seperti ini?”
Ayah menyeka air mataku yang akhirnya jatuh dengan telunjuknya. Tersenyum “Ayah bahagia mendengar itu nak, tapi Ayah tidak yakin tidak yakin bisa memenuhinya, Ayah sudah sangat lama di tunggu oleh dia” ayah memandang ke atas.
Aku menggeleng. Takut. “ngga’, Ayah ngga boleh ngomong seperti itu, Ayah harus bertahan demi anak-anak dan keluarga Ayah.” Kataku.
Ayah mengangguk-ngagguk, “bisa Ayah memelukmu???” tanyanya
walau sedikit merasa aneh mendekapnya, dia membelai lembut kepalaku “Ayah tidak menyangka ternyata kamu sudah sebesar ini, kamu tahu nak, kemarin Ayah memimpikan hal ini, Ayah memeluk wanita muda yang cantik dan ternyata itu adalah kamu, Ayah bahagia sekali, Ayah pikir ayah tidak akan melihatmu sampai tuhan memanggil Ayah”
Aku tidak berkata apa-apa, aku hanya mampu memandang wanita itu yang  balk memandangku dengan mata basahnya. Sebenarnya sudah sejak lama aku merindukan hal ini, tapi di saat aku memikirkannya bayangan dan tangisan Ibu selalu menjadi kebencian tersendiri pada sosoknya, dan itu membatku makin berat. Tapi hari ini, aku mampu melakukannya dengan sangat mudah. Aku bisa mendekap tubuhnya tanpa kebencian, aku melakukannya.  Dan aku bahagia. Aku menikmati setiap sentuhannya di kepalaku, bau badannya yang masih sama. Ahhh aku seakan flasback ke masa kecilku.
***
Air mataku tumpah lebih banyak lagi, tidak behenti, walau sudah bengkak. Ibu kini sudah ada di sampingku, menangis. Aripun ikut di sisiku, menahan tubuhku yang hendak tumbang.  Aku sungguh tidak tahu kenapa aku sesedih ini. Dulu di saat aku membayangkan hal ini, pasti aku akan tersenyum, bahkan aku tertawa, terlebih membayangkan wajah-wajah asing anak-anak Ayah ikut menangis. Tapi saat ini, detik ini, aku tidak mampu mengukir senyum itu, langit mendung di bawah pohon sekar memayungi kesakitanku. Aku dan beberapa orang masih berdiri di sini, di tempat air mata tumpah bagai hujan. Di depan tanah basah  yang bertaburan bunga di atapnya. Aku masih memegangi benda putih yang tertancap di tanah itu. Menangisi penyesalan yang belum sempat aku ucapkan padanya.
Aku minta maaf, sungguh aku mencintai Ayah, sama seperti dulu. Masih sama.

Makassar, 20 februari 2014

Selasa, 28 Mei 2013

cerpen



cerpen

Senja dikota daeng

Kita tidak akan pernah tau pada siapa hati kita akan berlabuh, dengan siapa kita akan menjalani takdir. Apakah dia hitam atau putih, kaya atau miskin, seagama atau tidak. Semua itu rahasia. Kita hanya bisa menjalaninya dan menikmati setiap detik takdir, dengan harapan akhir yang bahagia. Walau tak semua manusia bisa mendapatkan akhir yang bahagia itu.
***
                Sore ini, aku duduk dipinggir pantai menikmati detik-detik tenggelamnya sang surya.  Membiarkan pikiran dan hatiku melayang kemasa terindah dalam hidupku. Masa yang entah kapan akan terlupakan, Enam tahun lalu, ditempat dan dijam yang sama seperti hari ini.
***
Enam tahun silam…        
Aku baru tiba dikota daeng ini, sepupu yang menjadi alasanku mengunjungi kota ini membawaku kesebuah tempat , nama tempatnya pantai losari. Aku dan joni sepupuku menikmati sunset pertamaku dikota Makassar. Tempat ini memang indah, tak salah jika sepupuku sangat mengidolakan tempat ini.
Tempat ini bertambah indah ketika seorang gadis berjilbab duduk di meja didepanku, awalnya aku tidak terima kehadirannya dimeja itu karena dia menghalangi pemandanganku melihat sunset, tapi binar matanya  jauh lebih indah dari pancaran matahari disenja hari, kekesalanku menguap begitu saja. Dia sangat Cantik.
Tapi aku tidak tahu siapa dia, bahkan joni yang katanya hampir setiap hari ketempat ini belum pernah melihat dia. Rasa penasaran yang memuncak mendorongku untuk menghampirinya yang duduk sendiri. Tapi belum sempat aku beranjak dari kursi, joni menarikku terlebih dulu meninggalkan tempat itu, karena mamanya sudah menyuruh kami pulang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 sore,  aku baru pulang dari pantai itu, tepat didepan masjid ban motor joni  yang tadi kubawa kabur bocor, sialnya aku lupa membawa dompet dan handphonekupun lobet…ahh, aku begitu kesal, kenapa aku seceroboh ini. harus bagaimana aku sekarang, aku terdampar dikota yang baru sekali kukunjungi.
Ditengah keputus asaa’anku, aku melihat seorang yang tidak asing dimataku, dia yang sudah hampir seminggu ini kutunggui di pantai, tapi tak pernah aku temukan. dia adalah gadis cantik yang duduk didepan mejaku.Dia berjalan  keluar masjid, dilengannya terlilit  sebuah kain putih. Dia berjalan kearahku yang kebetulan berdiri didepan gerbang. Tapi dia berlalu begitu saja.
“maaf, apa kamu bisa menolongku…?” kataku menghentikan dia yang sudah beberapa langkah didepanku, dia membalikkan badannya memandangku.
“anda memanggil saya..?” katanya lembut,
Aku mengangguk, menceritakan kesialanku hari ini kepadanya, lalu dengan sangat malu (sebenarnya) aku meminta meminjam handponenya. Entah kebetulan atau memang kesialanku dia juga lupa membawa handphone, tapi tawarannya jauh lebih baik, dia meminjamkan uang untuk menambal ban yang kempes itu.
“tapi saya tidak tahu letak bengkelnya dimana, apa kamu bisa mengantar saya..?”
Dia tersenyum pertanda menyanggupi permohonanku. Kami berjalan bersama menuju bengkel yang letaknya tidak jauh dari masjid, Lima puluh ribu, menjadi utang dipertemuan kedua kita.
“bagaimana caraku mengembalikan uang kamu…?” tanyaku saat ban motor sudah selesai diperbaiki.
“terserah kamu, lagi pula itu tidak seberapa…!”
“bagaimana kalo besok jam 5 sore dipantai losari…??” kataku sangat semangat.
 “boleh juga” kata terakhirnya dihari itu sebelum dia menghilang dihadapanku.

***
jam yang seharian kutunggui dengan sangat gelisa akhirnya datang juga, aku menunggunya cukup lama dipantai, tapi dia tak juga datang. Atau mungkin aku yang terlalu semangat hingga tak sadar datang kecepatan. Entahlah, tapi penantianku usai saat kulihat dirinya berjalan menghampiriku.
“ini uang yang kupinjam kemarin. thanks yah..!” aku menyerahkan selembar uang lima puluh kehadapannya. Dia tersenyum meraih uang itu.
“Mmm kalo boleh tau nama kamu siapa..!?” tanyaku akhirnya
“namaku aini, kamu..?”
“aku Billi..!”
Cukup lama kami ngobrol, dan sepertinya kami sangat nyambung, hingga tak terasa waktu sudah memasuki maghrib. Kami berpisah tepat saat bumi berpisah dengan siang dihari ini.
itu adalah awal kedekatan kami. Hampir setiap sore kami bertemu dipantai ini, jadwal yang semula kurencanakan 2 minggu dikota ini, molor menjadi sebulan. Berkali-kali orang tuaku menghubungiku untuk segera kembali ke Manado, terlebih seminggu lalu aku resmi mengikat status dengannya. Membuatku semakin enggan meninggalkan Makassar.
***
Sore itu, kami duduk bersama dipantai losari, menikmati matahari, yang hari ini tertutupi awan tebal. Seperti biasa, pisang epe menemani senja kami. Tiga sendok sudah pisang itu habis dimulutku.
“kenapa kamu memilih aku jadi bagian hidupmu saat ini…?” aini tiba-tiba memberiku pertanyaan yang cukup membuatku bergidik.
“karena aku yakin Tuhan menakdirkan kamu untukku…!?” kataku tegas
“kenapa kamu sangat yakin…?”
“karena hatiku berkata itu, sekalipun Tuhan tidak menakdirkan kita, akan kubuat takdir itu menjadi kita, Billi dan aini…!!!”
“sekalipun kita berbeda keyakinan..?” dia lagi-lagi membuatku bingung, tapi dengan tenang aku berkata.
“yah, walaupun… bagiku cinta sejati tidak mengenal perbedaan, entah itu kaya miskin, tua muda, seagama atupun tidak…!!!”
Aini terdiam. Dia bungkam. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, yang pasti ada sesuatu yang membebani pikirannya.
“kamu baik-baik saja..?” tanyaku
Dia masih diam, tak menjawab pertanyaanku, membuatku bertambah bingung.
“kalo ada masalah cerita sama aku, siapa tau ajha aku bisa bantu…”
Cukup lama aini diam, “sebenar..”
“aini…!!” gertakan seorang wanita menghentikan perkataannya. Wajah aini yang tadinya memang berbeda semakin aneh dan bertambah pucat melihat dua orang wanita berdiri didekatnya dengan wajah sangat  marah.
“ummi..!!!” katanya dengan suara tercekat, sebuah tamparan mendarat dengan  mulus dipipinya yang putih dan halus itu.
“aini…” aku  memegangi bahunya yang terhempas kebelakang.
Tapi wanita yang disebutnya ummi menghempaskan tanganku dari bahunya, dia menunjukkiku dengan wajah sangat marah, dan mata yang memerah,
“jangan sentuh aini dengan tanganmu itu..” katanya meledak-ledak “aini tidak pantas berhubungan dengan lelaki seperti kamu. kamu lihat kerudung yang terpakai dikepalanya, dia seorang muslim, dia tidak pantas mengikat hubungan dengan pria berbeda agama seperti kamu…!” lanjutnya
“ummi sudah…” aini menarik-narik lengan ibunya berurai air mata.
“sudah  berapa kali ummi katakan, putuskan dia, jangan pernah berhubungan lagi dengan dia, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan ummi..”
“tapi aku mencintai dia ummi…”
PLAAKKK sekali lagi sebuah cap tangan menempel dipipinya, “cinta…!!! sampai matipun ummi tidak akan pernah merestui cinta kamu dengan dia… sekarang juga kamu ikut ummi pulang…!!!’ dengan kasar ibunya menariknya  pergi meninggalkanku.
Masih sangat jelas ditelingaku langkah kakinya yang diiringi isakan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.  ingin kukejar dia, tapi aku takut ibunya akan menamparnya lagi, tapi lima menit kemudian, jeritan aini melengking sangat keras, apa yang terjadi..!!! tanpa berpikir lagi aku berlari menghampirinya..
Kulihat aini telah berlumuran darah ditengah  jalan, sedang ibunya menangis ditrotoar. Badanku begitu lemas kakiku rasa-rasanya  tak sanggup lagi digerakkan. “aini..” namanya  entah sudah berapa kali terucap dibibirku. Tanpa kusadari aku sudah berada dihadapannya,  dengan tangan sangat gemetar aku memangku kepalanya yang sudah penuh darah diatas pahaku. 
“billi..” dia memegangi tanganku “aku tidak perduli perbedaan diantara kita, yang aku tahu aku mencintaimu saat ini, dan saat yang akan datang.” Katanya walau sangat susah
“plies jangan ngomong apa-apa… panggil ambulance…!” aku berteriak kepada semua orang yang mengeremuni kami.
Ibunya menghampiri kami, “aini… kamu bertahan nak…”
“ummi, maafkan aku, aku sayang ummi, tapi akupun tidak bisa kehilangan billi, ummi…”
“iya, terserah kamu nak, tapi ummi mohon kamu harus bertahan…!”
Aini menggenggam erat tanganku, “billi, kamu dengarkan kata ummi, dia merestui kita, aku mohon maafkan ummi, “
Aku mengangguk tak kuasa lagi mengeluarkan kata-kata.
“jika senja ini senja terakhir kita, aku mohon kamu jangan pernah menangisi kepergianku, tersenyumlah, ingat semua senja terindah kita, karena dengan begitu akupun akan tersenyum untukmu…!?” katanya semakin lemah.
“ummi, maafkan keputusan aini kali ini, aini sayang sama ummi…!!!” kata yang terakhir keuar dari bibirnya sebelum dia tidur untuk selamanya.
***
Masa sekarang…
Walau sejujurnya hari ini air mataku sangat ingin tumpah, karena senja itu  yang paling tidak bisa aku lupakan, tapi demi janjiku kepada gadis yang kucintai, semua air mata kukeringkan dengan kenangan indah diantara kami. Selamat jalan aini, selamat jalan kekasihku,  dirimu, cintamu dan kisah kita akan selalu abadi dalam hatiku…

by : wahyuni bohari