Butuh keberanian tingkat dewa untuk aku
pribadi mempost tulisan ini, tapi harus sampai kapan lembaran coretan ini jadi
penjaga di NB, well walau sebenarnya
malu dan sedikit keraguan aku memberanikan diri mempost tulisanku yang Alhamdulillah
original dari tangan dan pikiranku.
Happy reading, dan semoga ngga’ membosankan… JJJ
Ayah, maaf
Setiap kali melihat wajahnya hanya ada kebencian yang dapat
tertangkap didalam retinaku. Dia yang
hadir begitu saja dihadapanku sekarang. telah meriplay kembali kenangan
terpahit didalam hidupku. setelah ia menorehkan luka selama 10 tahun. kini
kembali mengorek luka yang sudah hampir mengering itu. ingin rasanya aku mencakar-cakar
wajahnya melmparkannya kedalam kerumunan
anjing-anjing lapar. Namun aku tidak bisa menolak kehadirannya saat ini
dihadapanku. walau hatiku terasa sangat perih, tapi dia datang dengan pesan seorang
pria yang telah ia tiduri dan hancurkan rumah tangganya. Yang membuat
perasaanku betul-betul berkecamuk.
Aku adalah Meli,
wanita 25 tahun yang bekerja disebuah supermarket sebagai kasir. sudah sepuluh tahun aku berusaha melupakan
semua kepahitan ini. Namun sampai sekarang kejadian itu masih sangat jelas
terekam diotakku.
Saat itu umurku baru
15 tahun. sudah beberapa minggu sikap Ayah berubah. Dia lebih dingin, dan lebih pemarah. Hampir
setiap hari aku mendapati Ayah dan Ibu bertengkar. Entah apa yang membuat Ayah
berubah seperti itu. dia yang awalnya baik-baik saja berubah 1800 .
walau masalah kecil, mereka tetap saja bertengkar. Mungkin sudah tidak ada
kecocokan di antara mereka. Tapi kenapa
baru sekarang..? jika memang masalahnya adalah
ketidak cocokan maka sudah dari
dulu mereka bercerai. Entahlah. aku
hanya bisa meng-essai pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Menutup telinga
didalam kamar berusaha tuli dengan semua pertengkaran mereka.
Aku baru pulang dari sekolah. Panas. Menggeruguti seluruh
tubuhku. Aku melangkahkan kaki meraih pintu kulkas, tapi langkahku terhenti
saat mendengar jeritan Ibu didalam kamar. Dengan sisa tenanga aku berlari
menghampirinya.
“mungkin mereka bertengkar lagi…” pikirku sebelum menarik ganggang pintu.
Tapi tak ada suara Ayah didalam kamar. Hanya jeritan Ibu yang
meronta-ronta digendang telingaku. Perlahan aku memutar ganggang pintu. kulihat
Ibu duduk dilantai memegangi selembar kertas. Yang tak aku tahu apa isi dan
maksud kertas itu. yang jelas sekarang aku melihat seorang wanita yang telah
mempertaruhkan hidup matinya untukku. Menangis, tak berdaya, dengan mata yang sudah bengkak.
Sungguh aku lebih baik mati dari pada harus melihat Ibu menangis seperti itu. aku
mendekap tubuh Ibu yang sudah hampir tumbang. Memeluknya sangat erat. Membagi
kesedihannya.
Seminggu kemudian aku baru tahu. Bahwa, Surat yang ada
digenggaman Ibu adalah surat cerai. Ayah menceraikannya. Ayah ingin memutuskan tali pernikahannya
dengan Ibu. Tapi kenapa..? apa yang membuat Ayah ingin menceraikan Ibu setelah
lima belas tahun hidup bersama..? aku sungguh tak habis pikir.
Dan lagi-lagi pertanyaan itu menguap begitu saja. Ibu ataupun
aku sama-sama tak mengetahui jawabannya kami hanya terdiam didalam kebingungan
menerima semua kenyataannya walau dengan hati yang sangat berat dan sakit.
***
“Hey ko’ ngelamun..?” Ari membuyarkan lamunanku menanti
barang yang tak kunjung datang.
Supermarket tempatku bekerja terbilang besar. Ada lima meja
kasir yang dijagai oleh dua pegawai.
Satu orang untuk menjumlahkan barang dan satu orangnya lagi untuk memasukkannya
kedalam kantung kresek. Dan itulah pekerjaan Ari. Memasukkan belanjaan
pelanggan yang sudah aku hitung. Selain sebagai rekan kerja, Ari juga adalah
sahabatku. Dia yang memasukkanku bekerja disupermarket ini. kita sudah berteman
sejak kecil. dari dulu dialah yang selalu menjagaku. Menemaniku. Melindungiku.
Bagiku dia bukan lagi sekedar sahabat tapi dia adalah saudara. saudara
sekandungku.
“ngg’ apa-apako” kataku kembali menjumlah sisa belanjaan yang
ada dihadapanku.
Antrian hari ini cukup ramai. Aku sudah memberi kode kepada Ari
untuk lebih gesit mengatur belanjaan. Seperti biasa dia selalu membalas semua perkataannku
dengan sekali anggukan. Setelah pelanggan pertama sudah membayar, pelanggan
kedua langsung menggantikan posisinya.
Orang itu mulai menaikkan beberapa belanjannya dihadapanku.
Aku sungguh terperangah mlihat wajah pelanggan yang ingin membayar belanjaannya
itu. berkali-kali kukedipkan mata berharap aku hanya salah lihat. tapi orang
itu terus menatap seakan meyakinkan premisku bahwa dia memang orang yang paling
tidak ingin aku lihat sampai aku mati. yang selalu menyapa pikiranku disaat sedang tak
terisi. Tapi aku masih berharap semoga aku salah lihat. ternyata tidak…!!!
Setelah membayar belanjaannya. Dia memberiku selembar kertas…
“kamu pasti masih ingat sama saya… ada hal penting yang ingin saya bicarakan,
menyangkut Ayah kamu… saya tunggu kamu besok dikafe depan super market ini. jam
9 pagi…” tanganku terasa bergetar memegangi secarik kertas yang hanya berisikan
beberapa kalimat namun cukup membuatku hancur hanya dalam sedetik.
Ya tuhan, mimpi apa aku
semalama.. kenapa dia datang lagi dalam hidupku.. apa yang harus aku lakukan..?
apa aku harus menemuinya sesuai yang ada disuratnya…? Tapi hati ini masih sakit
mengingat semua perlakuannya kepadaku dan Ibu…
***
Hari ini aku harus pulang cepat. Karena kemarin aku baru
gajian, seperti biasa sehari setelah gajian Ibu akan membuatkan makanan enak
untuk kami santap bersama sebagai makan malam. tapi pikiranku hari ini tak
seperti biasanya. Aku sungguh tidak bisa tenang. pikiranku terus berputar
kesurat yang tadi kubaca.
Seperti yang aku katakana tadi. Ibu sudah lama menungguku
dimeja makan dengan hidangan spesialnya. Apalagi kalo bukan opor ayam dan
sambel buatan Ibu. ditambah segaris senyum dibibirnya yang sudah mulai keriput.
Senyum yang dulu sempat pergi entah kemana…
“ayo duduk.. Ibu sudah masak enak buat kamu, sekarang
waktunya kita makan…!!!” Ibu menyendokkan nasi kedalam piringku.
makanan ini tak bisa melewati tenggoranku. Pikiranku terus
melayang kesurat itu…
“kamu kenapa nak…?” tanya Ibu menghentikan makannya. Melihatku
hanya mengaduk nasi.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab
pertanyannya. Hanya sebuah senyum yang membalas
kekhawatiran beliau.
“bu’ aku kekamar duluan
yah… mau istrahat capek…!” kataku meningalkannya yang mulai memberaskan
dan membersihkan piring.
Semua lembaran pahit masa lalu seakan terbuka kembali oleh
secarik kertas siang tadi.
***
Kertas itu masih seetia menempel ditanganku. Aku sungguh
tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika aku tidak datang, maka aku akan
mati penasaran . Tapi kalaupun iya aku harus pergi menemuinya, apa yang nanti
akan aku dapatkan..? aku yang sudah capek-capek kesana toh ternyata dia hanya
ingin memeberitahukan bahwa kini mereka hidup bahagia bersama anak-anak mereka.
Yang ada aku hanya akan menamparnya. Aku tidak bisa memecahkan ini. tak ada
pilihan lain. Aku meraih handphone menekan-nekan beberapa nomor lalu
memanggilnya.
“halo,, ri’ bisa kerumah aku sekarang ngga …?” kataku saat
panggilanku sudah tersambung.
“emangnya kenapa.?”
“udah kesini ajha penting…!”
Beberapa saat kemudian dia sudah ada didepan rumahku. Jarak
rumah kami relative dekat. Jadi tidak
membutuhkan waktu lama untuknya segera sampai dirumah.
“ada apa sih sebenarnya..?” tanya Ari duduk dihadapanku.
Aku menyerahkan secarik kertas yang seharian mengangguku. Ari
muai membaca kalimat dikertas itu.
“ini dari siapa…?”
“itu dari selingkuhan Ayah aku ri, apa yang harus aku
lakukan..?”
“kalo saran aku sih sebaiknya kamu pergi saja. Syapa tau ajha
ada hal yang sangat penting yang ingin dia beri tahu.!”
“tapi berat banget..
liat wajah dia ajha hati aku rasanya sakit banget..!”
Setelah menceraikan Ibu. Ayah sudah tidak pernah lagi pulang
kerumah. Apalagi menengok kami. Sejak saat itu pula kondisi Ibu drop. Dia jatuh
sakit. Aku akhirnya membawa beliau
kerumah sakit untuk berobat. Tapi saat kami sampai di depan UGD. Seorang pria
berlalu dihadapan kami membuat kesadaran Ibu hilang. Dia berlalu dengan seorang
wanita. Tangannya melingkar mesra dipunggung wanita itu. Rona wajah mereka
terlihat sangat bahagia. Mungkin karena perut wanita itu yang membuncit. Entah
sudah berapa lama usia kandungannya dan kapan mereka menghalalkan hubungan
mereka. Yang jelas sebuah jawaban yang sudah beberapa minggu kucari akhirnya
terhampar didepan mataku.
Itulah alasan mengapa Ayah menceraikan Ibu. Dia selingkuh
dengan wanita lain. Wanita yang hampir mendekati usiaku saat itu. langit seakan runtuh menghantamku. kakiku
bahkan tak sanggup lagi terangkat. Sepertinya sebentar lagi aku yang akan
dibawa ke UGD.
“Ayah..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku mengiringi
air mata yang terus berderai dipipiku.
Mereka berdua menengok kearahku. Namun tidak menghampiriku,
mereka bahkan berlalu begitu saja seolah tidak mengenal aku. seoalah aku adalah
orang bodoh yang salah memanggil orang. Ingin rasanya aku segera pingsan. Tapi
aku terus berusaha kuat. Menahan keseimbangan diriku agar tidak tumbang. Karena
Ibu sudah lebih dulu melakukan itu. dengan bantuan perawat aku membawa Ibu ke UGD. Ibu dirawat seminggu dirumah sakit. Karena
stres dan shock berat yang dialami otaknya. Bagaimana dia tidak shock, dia yang sangat mencintai Ayah, harus rela melepasnya dan
membiarkan kami seperti orang asing baginya. Walau sebelum bercerai sering
terjadi pertengkaran diantara mereka, tapi tidak sedikit kenangan indah yang
tercatat selama limabelas tahun. Dan mengapa dia harus
meperlakukan kami seperti itu aku adalah darah daginngnya, walaupun dia
mencuciku dengan seluruh air di bumi, darahnya tetap mengalir didarahku.
“tapi mel, ngg’ mungkin kan dia mau repot-repot dari Surabaya
ke Makassar kalo bukan untuk
menyampaikan sesuatu yang penting…?”
“iy juga sih, tapi ngg’ mungkinlah aku mau menemui dia, enak
ajha dia dengan suksesnya menghancurkan keluarga saya, saat dia butuh dia
dengan seenaknya menemui saya…”
“tapi bener kata Ari!”
Aku terkejut mendengar suara Ibu yang masuk ketengah
perbincanganku dan Ari. Hal yang paling tidak aku harapkan. Entah sudah berapa
lama Ibu berdiri disitu. Yang jelas dia sudah mendengar semua yang tidak ingin
aku dengarkan.
“bagaimanapun kamu harus menemuinya, jangan perdulikan apa
yang akan kamu dengar nantinya.” lanjutnya
Aku menghambur kepelukan Ibu. Memeluknya sangat erat. Walau
sebuah solusi sudah masuk ketelingaku, tapi batinku masih tetap tak menentu.
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk nalar dan hatiku
bertengkar.
Ari menggam kedua tanganku “aku akan menemani kamu mel”
***
Pagi kembali menyapa, matahari seakan tersenyum lebar
melihatku pagi in. tidak seperti biasa, pagi ini mataku sangat sulit untuk
terbka. Bukan karena penafsiraku ternyata betul, tapi karena yah, hari ini adalah hari yang
membuatku mual kemarin.
Ibu memaksaku bangun. Didukung pula oleh kedatangan Ari yang
sudah ada didepan. Tak membutuhkan waktu lama untuku selesai berpakaian. Pagi
ini aku bebas pergi, karena aku dan Ari sedang Off. seperti yang sudah
kukatakan sebelumnya. Alam sangat mendukung pertemuan hari ini.
Wanita itu tampak duduk dimeja kedua dari pintu. segelas jus
alvokad tersedia dihadapannya. Baju biru bermotif bunga membuatnya tampak
sangat cantik, ditambah lagi senyum yang melengkung diwajahnya yang masih
sangat kencang saat melihatku dan Ari berdiri diambang pintu. dengan wajah
lusuh, aku duduk dihadapannya.
“kamu mau pesan apa..? biar saya pesankan…!” wanita itu
menyapaku dengan suaranya yang tampak renyah.
Sok akrab, nyebelin
banget sih dumelku
dalam hati , Ari yang sudah melihat perubahan diwajahku sejak tadi mencubit tanganku.
“apa’an sih sakit tau..!” ketusku menatapnya jengkel
“kalian mau pesan apa..!?” tanyanya sekali lagi.
“ngg’ usah basa-basi degh, langsung keintinya saja”
Dia mendehem cukup keras saat mendengar penuturanku barusan.
“saya tahu pasti kamu sangat membenci saya, tapi…” waita itu menggantung
ucapannya. Membuatku menyatukan alis “tapi… apa bisa kamu memaafkan Ayahmu..”
lanjutnya.
“maksud kamu..?” tanyaku tak mengerti
“sudah enam bulan dia sekarat, akibat kecelakaan… seminggu
lalu, keadaannya makin droup, dia kembali koma. Selama druop itu dia terus
memanggil nama kamu… jadi saya pikir untuk mempertemukan kalian. Mungkin
dengan melihat kamu keadaannya bisa
membaik..!” butiran air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Aku tersentak mendengar penuturannya. Tapi aku dengan cepat
menguasai diriku, agar tidak terlihat lemah dihadapannya.
“jadi mau kamu apa..?” tanyaku
“saya ingin membawa kamu kesurabaya, menemui Ayah kamu…” katanya lagi.
“ngg’… sampai kapanpun aku ngg’ mau menemui dia…! Biarkan
saja dia mati” kataku dengan nada cukup tinggi.
Raut kesedihan tergambar jelas diwajahnya, senyum yang tadi disajikan untukku kini betul-betul
hilang. Dia turun dari kursinya dan duduk “tapi bagaimanapun dia adalah Ayah
kamu, kamu darah daging dia, kamu anaknya?” dia menangis sesegukan
“apa kamu bilang, anaknya?” tanyaku getir “kemana saja dia
selama ini, sepuluh tahun dia menelentarkan aku dan Ibu, sepuluh tahun dia
menggap kami bagai bagai orang asing, dan sekarang kamu mau bilang dia adalah
Ayahku, tidak. Ayahku sudah mati” kataku akhirnya menangis
Aku menarik Ari yang sejak tadi tidak bersuara di kursinya
“ayo kita pulang, aku capek disini!!!” kataku.
“tapi mel??”
“ayo…!!!!” bentakku menghentikan responnya.
***
Aku langsung masuk kedalam kamar, tak memperdulikan
pertanyaan-pertanyaan ibu. Aku tidak ingin, Ibu mengetahu semua ini. Aku takut
Ibu malah semakin menderita mendengarnya, yah sampai detik ini yang aku tahu,
Ibu masih sangat mencintainya, foto pernikahan mereka masih tergantung di
dinding kamarnya, aku tidak ingin Ibu kembali menumpahkan air mata karena dia,
cukup aku hari ini.
Ketukan Ibu menghentikan laju kesakitanku yang ku keluarkan
di kedalaman bantal. Ibu menghambur kepelukanku saat melihatku berdiri di
ambang pintu, “tamui dia nak, bagaimanapun dia adalah Ayahmu?” katanya
menangis.
Argh aku mencerit dalam kesal dalam hati,
pasti ini ulah Ari, dia memberitahukan semuanya ke Ibu, kenapa dia
memberitahukan semua itu, padahal aku sudah melarannya. Aku menepis
dekapan Ibu. Tidak.
“sampai kapanpun dan apapun yang terjdi aku tidak akan pernah
mau menemuinya, dia terlalu kejam untuk di sebut sebagai Ayah, tidak bu’,
tidak. Sekalpun dia harus mati”
“kenapa kamu jadi seperti ini, bagaimanapun dia adalah
Ayahmu, dan kamu tidak bisa mengubah kenyataan itu” Ibu menelan kesakitan yang
tertinggal di lehernya “demi Ibu nak, temui dia, sekali ini saja, Ibu mohon”
pelas ibu memegang tanganku.
Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah tatapan
memelas Ibu. sorot matanya kembali seperti saat sepuluh tahun lalu, saat dia
terbaring di rumah sakit penuh kesakitan, keperihan dan tidak berdaya.
***
Aku berdiri di depan sebuah ruangan, kakiku seperti
tergantung besi seribu ton, sangat berat untuk melangkah. Tapi wanita itu
menarikku. Tampak seorang lelaki terbaring di atas ranjang, badannya di penuhi
kabel-kabel yang tidak aku mengerti, di tangannya tergantung infus, sedang di
hidungnya hinggap selang pernafasan. Aku getir melihat tubuhnya yang begitu
kurus, dengan mata yang sudah hampir tenggelam. Wanita itu menatapku dengan
Isyarat aku harus mendekatinya sementara dia berdiri di dekat pintu, tapi kaki
ini mengapa masih sangat berat melangkah.
Tanganku gemetar menyentuhnya, suaraku lenyap. Apa ini? Siapa
orang yang terbaring bagai mayat ini? apa dia Ayah? Lalu kemana badan besar
yang selalu di kagumi ibu? aku meneteskan air mata, tak kuat. Melihatnya.
“Mely… Meli…. Meli….” Katanya berulang-ulang kali. mengigau
Aku semakin tidak kuat, “iya, ini meli, meli ada di sini?”
kataku, tapi dia masih tidak berhenti menyebut namaku.
Aku tidak sanggup, ternyata ini tidak semudah yang aku
bayangkan. Kondisi Ayah sukses mencabit-cabit perihku. Di saat bersamaan dia
kembali memanggil namaku. Aku tidak kuasa, aku kembali ke sisinya
“iya Ayah ini Meli, Meli ada di dekat Ayah sekarang” kataku
Perlahan mata Ayah terbuka.
Aku segera menghapus butiran kristal itu dari pipiku. “Meli??” katanya
terkejut
“iya Ayah ini Meli” kataku memegang tangannya.
“Ayah,,,, Ayah…” matanya basah seketika “Maafkan Ayah nak,
maafkan Ayah”
Aku membuang muka, mencoba menanam kembali air mata yang
nyaris kembali keluar itu “iya, yang penting saat ini Ayah harus sembuh dulu!”
“tidak nak, maafkan Ayah, Ayah berdosa pada kamu dan ibumu,
Ayah jahat telah menelantarkan kalian, Ayah…” Ayah sesegukan di ranjangnya
“Ayah pantas mati di tangan kalian??”
“ssttt, Ayah dengar, Meli sama Ibu sudah memafkan Ayah, tapi
Ayah harus sembuh, Ayah harus kembali seperti Ayah yang Meli lihat dulu, bukan
seperti ini?”
Ayah menyeka air mataku yang akhirnya jatuh dengan
telunjuknya. Tersenyum “Ayah bahagia mendengar itu nak, tapi Ayah tidak yakin
tidak yakin bisa memenuhinya, Ayah sudah sangat lama di tunggu oleh dia” ayah
memandang ke atas.
Aku menggeleng. Takut. “ngga’, Ayah ngga boleh ngomong
seperti itu, Ayah harus bertahan demi anak-anak dan keluarga Ayah.” Kataku.
Ayah mengangguk-ngagguk, “bisa Ayah memelukmu???” tanyanya
walau sedikit merasa aneh mendekapnya, dia membelai lembut
kepalaku “Ayah tidak menyangka ternyata kamu sudah sebesar ini, kamu tahu nak,
kemarin Ayah memimpikan hal ini, Ayah memeluk wanita muda yang cantik dan
ternyata itu adalah kamu, Ayah bahagia sekali, Ayah pikir ayah tidak akan
melihatmu sampai tuhan memanggil Ayah”
Aku tidak berkata apa-apa, aku hanya mampu memandang wanita
itu yang balk memandangku dengan mata
basahnya. Sebenarnya sudah sejak lama aku merindukan hal ini, tapi di saat aku
memikirkannya bayangan dan tangisan Ibu selalu menjadi kebencian tersendiri
pada sosoknya, dan itu membatku makin berat. Tapi hari ini, aku mampu
melakukannya dengan sangat mudah. Aku bisa mendekap tubuhnya tanpa kebencian,
aku melakukannya. Dan aku bahagia. Aku
menikmati setiap sentuhannya di kepalaku, bau badannya yang masih sama. Ahhh
aku seakan flasback ke masa kecilku.
***
Air mataku tumpah lebih banyak lagi, tidak behenti, walau
sudah bengkak. Ibu kini sudah ada di sampingku, menangis. Aripun ikut di
sisiku, menahan tubuhku yang hendak tumbang.
Aku sungguh tidak tahu kenapa aku sesedih ini. Dulu di saat aku
membayangkan hal ini, pasti aku akan tersenyum, bahkan aku tertawa, terlebih
membayangkan wajah-wajah asing anak-anak Ayah ikut menangis. Tapi saat ini,
detik ini, aku tidak mampu mengukir senyum itu, langit mendung di bawah pohon
sekar memayungi kesakitanku. Aku dan beberapa orang masih berdiri di sini, di
tempat air mata tumpah bagai hujan. Di depan tanah basah yang bertaburan bunga di atapnya. Aku masih
memegangi benda putih yang tertancap di tanah itu. Menangisi penyesalan yang
belum sempat aku ucapkan padanya.
Aku minta maaf, sungguh
aku mencintai Ayah, sama seperti dulu. Masih sama.
Makassar, 20 februari 2014