Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 November 2015

cerpen (PILIH DIA)



 PILIH DIA

Rumah itu terlihat condong kebarat, beberapa seng merah yang dijadikan atap oleh sipemilik rumah meneriaki tumpukan karat yang meniduri tubuhnya. Penyangga keropos di sisinya terlihat lelah oleh pelik kehidupan yang dilalui oleh majikannya tapi ia memilih diam, membiarkan puluhan rayap menerjemahkan segala situasi tentang dunia yang tak berpihak pada majikannya. Sementara lumut didinding rumah itu telah menghijau, menutupi tumpukan lumut tua yang menyimpan cerita dalam kesepian.  
Diam. Tak ada yang sanggup mengangkat suara, rentetan kalimat itu tersumpal oleh masa yang menggantung suram.  Tentang ketakberdayaan, tentang rumah itu, tentang kemiskinan yang membuat pemiliknya berfikir akan cahaya digerbang kehidupannya.
Seorang gadis berdiri diambang  bayang yang meninggi, mata kelamnya memandangi rumah itu. sama seperti seng, penyangga dan lumut,  mulutnya diam oleh keadaan yang berdiri condong didepannya. kakinya enggan melangkah tapi berbagai pikiran tentang dirinya dan pemilik lain rumah itu membuat dia harus kesana.
Gadis itu tak punya pilihan lain, ia tak memiliki tenaga untuk  melawan segala kekuatan yang menyangkut tentang keadaan yang berdiri kokoh dibelakangnya. Keadaan yang begitu ingin ia ubah, tidak, ia tak punya hak untuk mengubah masa lalu,  sejarah itu sudah terlanjur terjadi, meski kelam, meski berat. Segalanya telah terjadi dan dia hanya bisa mengubah jalannya kedepan.  Masa depan itu tak akan ia samakan dengan masa lalu, ia membuang dirinya, jauh meninggalkan rumah condong itu untuk pintu yang baru. Untuk  masa yang  akan membebaskannya dari kemiskinan, uang.
 “kau datang” suara wanita paruh baya terdengar lembut dibalik pintu.
Gadis  itu tersenyum, ia mengangguk menarik koper hitam menenggelamkan dirinya dalam rumah. Sudah tiga tahun sejak kepergiannya, tak sekalipun ia menjamakan bayangannya dirumah yang sudah terlalu banyak menyaksikan berbagai peristiwa tentang dirinya, bagaimana wanita dibalik pintu itu melahirkannya seorang diri diruang tamu. Tuhan seakan memberi tanda padanya bahwa dia akan sendiri, dia akan menjalani kehidupannya sendiri dan dia akan mengubah hidupnya sendiri sama seperti saat ia dilahirkan, bukan karena erangan wanita itu tapi karena dirinya sendiri  yang mendorong dan menggigit dinding rahim ibunya agar keluar dari kelembapan yang menahannya sembilan bulan.
Tapi dia datang kerumah condong itu sesungguhnya bukan untuk meratuki ataupun berterimakasih, dia kesana sebab sebuah pilihan yang dikatakan seorang lelaki telah melukai jiwanya. Pilihan yang menyangkut semuanya, dirinya, rumah condong itu, dan masa depan yang terlanjur indah ia bingkai.
*******
Gadis itu menginjak Jakarta beberapa hari setelah peringatan hari pahlawan. Ia ke ibukota dengan harapan dan semangat layaknya pahlawan yang akan berjuang, mempertaruhkan dirinya dimedan perang. Ia tidak tahu apapun tentang kota itu, ia tidak tahu harus bagaimana dan akan kemana. Modal nekat membuatnya terlihat seperti ayam yang baru dibeli dari pasar dan dibawa pulang oleh seseorang, entah akan berakhir seperti apa. Tapi yang pasti ia sudah menggantung masa depan saat pertama kali berangkat meninggalkan rumah condong dan ibunya.
“kau masih bisa berubah pikiran jika kau tidak yakin”  lelaki berkacamata didepanku itu berucap tanpa menoleh.
“aku sudah ada disini ka’, jadi  ka’ Yudha ngga’ usah ngomong gitu” jawab gadis itu berjalan mengikuti langkah lelaki berkacamata tersebut.
Mereka memasuki sebauh kamar kost kecil, “selama dikota ini kau akan tinggal disini, ini satu-satunya kamar yang aku dapat dari DP yang kau berikan, dan kebetulan tempat kostku juga tidak begitu jauh dari sini” kata lelaki itu lagi lalu meninggalkannya.
Keesokan harinya, Yudha, lelaki berbadan tinggi itu membawa dia kesebuah restoran, tempat dia melangkah ketangga masa depannya. Harapannya membumbung. Dia ingin membeli batu untuk mengganti tembok retak dan kayu penyangga yang baru, dia juga ingin membeli genteng agar atapnya tidak perlu susah payah berderit ketika dihemps angin. Dan dia ingin membayar pengorbanan ibunya dengan uangnya.
Dua tahun, waktu berjalan sangat cepa, tapi dia bahkan tidak berhasil mengumupulkan uang untuk menegakkan rumahnya yang condong.
“ka’, aku mau pekerjaan tambahan” katanya saat mereka berjalan bersama sepulang kerja.
Lelaki itu memandangnya, “apa kau bisa mengatur waktumu?”
Dia mengangguk, “kalau hanya satu pekerjaan, aku tidak akan bisa membuat Ibu dikampung senang, yahh ... ka’ Yudha  harus mencarikanku pekerjaan”
“akan aku usahakan” katanya.
Yudha memang terlalu baik. Dia adalah malaikat yang dikirim untuk menjawab keabstrakan masa depannya.  Saat dia pulang kampung gadis itu menemuinya dan mengatakan tentang keadaannya dan dengan senang hati Yudha membantunya, ke Jakarta,  membayar pesawat dan terkadang membayar uang kostnya saat dia belum menerima gaji.
Meski waktunya terus terbuang tapi pekerjaan kedua yang diberikan Yudha padanya sedikit membantu, ditabungannya sudah ada beberapa digit angka, diluar dari tunjangan bulanan yang ia kirim kekampungnya.  Tapi baginya itu tidak cukup. Hari ini ia kembali menemui Yudha, dia ingin meminta pekerjaan yang memiliki gaji yang sedikit lebih tinggi.
“maaf tadi aku mengurus pelanggan dulu, ada apa?” katanya tersenyum.
“ka aku mau pindah kerja, aku mau bekerja di tempat yang memiliki gaji sedikit tinggi,apa  ka’ Yudha punya rekomendasi tempat, sebutkan saja alamatnya biar aku yang mengurusnya sendiri”
Wajah Yudha berubah masan, dia menatap wajah gadis itu “apa dikepalamu hanya bisa memikirkan tentang uang?” katanya membaung pandangan.
“kenapa ka’ Yudha ngomong gitu?”
“Vitha tolong dengarkan aku, hidup itu bukan selau soal uang, kau bekerja saja disana, jika sudah lama gajimu akan naik sendiri, hidup dikota ini butuh kesabaran”
“tapi ka’ gajiku itu tidak cukup!!!” katanya, tapi Yudha sudah lebih dulu pergi. Lelaki itu bosan dengan percakapan yang menyangkut tentang uang dan Vitha yang pasti tidak akan pernah berakhir.
Vitha akan selalu bersemangat jika itu menyangkut uang, dan Yudha sedikit membenci hal tersebut. Dia ingin Vitha setidaknya memperhatikannya, menjadikannya prioritas bukan uang yang mendadak menyebakan. Pindah kerja! Untuk pekerjaannya yang kedua saja, Yudha harus mengorbankan posisinya, menyerahkan pada Vitha tanpa gadis itu tahu, tapi dia bahkan meminta lebih. Dia bisa, yah Yudha bisa melakukan hal itu untuk gadis yang diam-diam ia cintai itu, mencarikannya pekerjaan, koneksinya di kota cukup luas untuk hanya sebuah pekerjaan, tapi kalaupun ia melakukannya Vitha tidak akan pernah berhenti, ambisinya justru akan semakin besar dan Yudha tidak mau Vithanya seperti itu. Meski Vitha  mungkin tidak mengerti.
Yudha memandangi Hpnya, cukup lama, tak ada telepon ataupun sms dari Vitha. Apa dia sungguh marah dan membenciku? Batinnya bertanya-tanya, tapi tepat saat  ibu jarinya ingin memanggil kontak Vitha, gadis itu menelponenya lebih dulu.
“ka maaf, aku memang salah, tapi ka’ Yudha ngga usah marah gitu sama aku sampai tidak menelponeku... baik aku tidak akan merepotkan ka’ Yudha lagi, aku akan mencari pekerjaan baru, aku akan minta bantuan pada teman kerjaku yang lain”
“Vitha, apa kau bisa berhenti berbicara tentang hal itu?” Yudha memotong ucapannya.
“memangnya kenapa? kenapa ka’ Yudha sangat membencinya?”
“karena kamu akan keluar dari dirimu jika membicarakan tentang uang, malam ini saja aku mohon jangan bicarakan apapun diluar kita, oke aku minta maaf tapi aku tidak bermaksud untuk menolak keinginanmu, aku hanya tidak ingin kau terlalu bersusah payah, fikirkan dirimu jika memang kau tidak bisa memikirkan orang lain”
“aku tidak mengerti ka’ Yudha ngomong apa”
“aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa...”
Malam itu, Yudha mengatakan segalanya, tentang kekhawatirannya, tentang perasaan yang ia pendam, tentang segala hal yang menyangkut isi hatinya.
Satu tahun setelah  malam itu, dan tiga tahun sejak kepergiannya meninggalkan ibunya waktu berjalan terlalu cepat.  Seperti biasa Yudha menjemputnya sepulang kerja, mereka makan bersama diwarung soto tidak jauh dari  cafe  tempat Vitha bekerja. “ada hal yang ingin aku beritahukan” kata Yudha disela makannya.
Vitha mendongak memandangi lelakinya.
Yudha menghentikan makannya, ia meraih tangan Vitha, menatapnya sangat dalam, “mungkin kau akan terkejut mendengar pengakuanku, tapi aku mohon kau dengarka baik-baik” ucapnya, Vitha diam “maukah kau menikah denganku, aku tidak punya banyak uang tapi aku bisa membahagiakanmu dengan cintaku”
Vitha tertawa mendengarnya. Ia melepas tangan Yudha dari tangannya. “ka’ Yudha ini tidak lucu” katanya
“aku serius Vit, aku sayang sama kamu dan aku mau kita menikah”
“ka’ belum waktunya... ka’ Yudha tahukan bagaimana niatku datang kesini, aku mau mengubah nasibku, aku mau membahagiakan Ibuku, aku bukan mau berleha-leha dengan cinta apalagi pernikahan”
“maksudmu??”
“aku belum memiliki apapun untuk aku buktikan pada masa laluku, ka’ Yudha pasti mengerti maksudku”
“apa karena aku buka orang kaya?”
“bukan begitu”
Yudha tertawa kecil menatap tajam mata Vitha “aku harusnya mengerti dikepalamu memang hanya ada uang, kalau begitu kenapa kau tak memacari saja orang kaya dan paksa dia untuk mengubah masa depanmu itu jauh lebih mudah” kata Yudha meninggalkannya.
Vitha diam, tangannya terkepal mendengar cacian yang diberikan lelakinya itu. bagaimana mungkin orang yang dia cintai mengatakan hal sekasar itu padanya. Cinta atau uang, setidaknya kalimat Yudha barusan menyangkut dua hal itu. entah, dia tidak mengerti dari mana Yudhanya yang lembut mendapatkan kalimat seperih itu, air mata yang sejak terus ia tahan akhirnya mengalir di pipinya,  muara kesakitan yang bersumber dari lelaki itu.
**********
Vitha berdiri didepan rumahnya, dua hal itu terus menggantung dikepalanya, UANG atau CINTA. Vitha memandangi rumah condongnya, hidup memang bukan melulu soal uang, tapi dengan uanglah dia bisa merasakan hidupnya. Dengan uang dia bisa membalas dendam pada masa lalunya. Dia mungkin bisa memilih cinta jika saja dia hidup pada drama atau roman picisan, tapi realitasnya tdiak seperti itu, dia ingin dipandang, dia ingin keberadaannya dilihat oleh semua orang dan dengan uang dia bisa menunjukkan eksistensinya bahwa dia ada, mungkin Yudha benar, harusnya dia menggaet lelaki kaya, anak pejabat, jika perlu  dia akan menggaet pejabatnya, itu adalah jalan pintas yang bisa mengindahkan hidupnya, tapi toh pada kenyataannya dia tidak melakukan hal itu, dia memilih Yudha, dia menerima lelaki itu sebagai kekasihnya meski ia tahu Yudha tidak bisa membawanya menuju  puncak tangga yang ia gapai, tapi ia memilih Yudha sebab hatinya  menginginkan hal itu, dan ia sungguh tidak punya kuasa mengubah arah hatinya, meski saat ini lelaki itu telah berhasil melukaai perasaannya tapi tetap saja hatinya rindu akan lelaki kacamata  tinggi itu.
“Uang atau Cinta, ibu pilih yang mana?”
Ibunya yang baru datang dari dapur duduk sembari menyimpan siingkong rebus didepan Vitha “Uang, tentu saja, kita bisa membei segalanya dengan itu” kata ibunya tersenyum “tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli oleh uang dan itu hanya bisa dibeli oleh Cinta, meski kau tidak punya uang, kau akan tetap merasa bahagia, dengan cinta kau akan lebih mudah mendapat uang”
Ini yang Vitha cari dari kepulangannya, meski dia masih harus memikirkannya tapi dia tahu pilihan apa yang harus ia ambil, Vitha memeluk Ibunya. “terimakasih” bisiknya mengeratkan pelukannya di tubuh sang Ibu.
The End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com