Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Mei 2013

cerpen



cerpen

Senja dikota daeng

Kita tidak akan pernah tau pada siapa hati kita akan berlabuh, dengan siapa kita akan menjalani takdir. Apakah dia hitam atau putih, kaya atau miskin, seagama atau tidak. Semua itu rahasia. Kita hanya bisa menjalaninya dan menikmati setiap detik takdir, dengan harapan akhir yang bahagia. Walau tak semua manusia bisa mendapatkan akhir yang bahagia itu.
***
                Sore ini, aku duduk dipinggir pantai menikmati detik-detik tenggelamnya sang surya.  Membiarkan pikiran dan hatiku melayang kemasa terindah dalam hidupku. Masa yang entah kapan akan terlupakan, Enam tahun lalu, ditempat dan dijam yang sama seperti hari ini.
***
Enam tahun silam…        
Aku baru tiba dikota daeng ini, sepupu yang menjadi alasanku mengunjungi kota ini membawaku kesebuah tempat , nama tempatnya pantai losari. Aku dan joni sepupuku menikmati sunset pertamaku dikota Makassar. Tempat ini memang indah, tak salah jika sepupuku sangat mengidolakan tempat ini.
Tempat ini bertambah indah ketika seorang gadis berjilbab duduk di meja didepanku, awalnya aku tidak terima kehadirannya dimeja itu karena dia menghalangi pemandanganku melihat sunset, tapi binar matanya  jauh lebih indah dari pancaran matahari disenja hari, kekesalanku menguap begitu saja. Dia sangat Cantik.
Tapi aku tidak tahu siapa dia, bahkan joni yang katanya hampir setiap hari ketempat ini belum pernah melihat dia. Rasa penasaran yang memuncak mendorongku untuk menghampirinya yang duduk sendiri. Tapi belum sempat aku beranjak dari kursi, joni menarikku terlebih dulu meninggalkan tempat itu, karena mamanya sudah menyuruh kami pulang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 sore,  aku baru pulang dari pantai itu, tepat didepan masjid ban motor joni  yang tadi kubawa kabur bocor, sialnya aku lupa membawa dompet dan handphonekupun lobet…ahh, aku begitu kesal, kenapa aku seceroboh ini. harus bagaimana aku sekarang, aku terdampar dikota yang baru sekali kukunjungi.
Ditengah keputus asaa’anku, aku melihat seorang yang tidak asing dimataku, dia yang sudah hampir seminggu ini kutunggui di pantai, tapi tak pernah aku temukan. dia adalah gadis cantik yang duduk didepan mejaku.Dia berjalan  keluar masjid, dilengannya terlilit  sebuah kain putih. Dia berjalan kearahku yang kebetulan berdiri didepan gerbang. Tapi dia berlalu begitu saja.
“maaf, apa kamu bisa menolongku…?” kataku menghentikan dia yang sudah beberapa langkah didepanku, dia membalikkan badannya memandangku.
“anda memanggil saya..?” katanya lembut,
Aku mengangguk, menceritakan kesialanku hari ini kepadanya, lalu dengan sangat malu (sebenarnya) aku meminta meminjam handponenya. Entah kebetulan atau memang kesialanku dia juga lupa membawa handphone, tapi tawarannya jauh lebih baik, dia meminjamkan uang untuk menambal ban yang kempes itu.
“tapi saya tidak tahu letak bengkelnya dimana, apa kamu bisa mengantar saya..?”
Dia tersenyum pertanda menyanggupi permohonanku. Kami berjalan bersama menuju bengkel yang letaknya tidak jauh dari masjid, Lima puluh ribu, menjadi utang dipertemuan kedua kita.
“bagaimana caraku mengembalikan uang kamu…?” tanyaku saat ban motor sudah selesai diperbaiki.
“terserah kamu, lagi pula itu tidak seberapa…!”
“bagaimana kalo besok jam 5 sore dipantai losari…??” kataku sangat semangat.
 “boleh juga” kata terakhirnya dihari itu sebelum dia menghilang dihadapanku.

***
jam yang seharian kutunggui dengan sangat gelisa akhirnya datang juga, aku menunggunya cukup lama dipantai, tapi dia tak juga datang. Atau mungkin aku yang terlalu semangat hingga tak sadar datang kecepatan. Entahlah, tapi penantianku usai saat kulihat dirinya berjalan menghampiriku.
“ini uang yang kupinjam kemarin. thanks yah..!” aku menyerahkan selembar uang lima puluh kehadapannya. Dia tersenyum meraih uang itu.
“Mmm kalo boleh tau nama kamu siapa..!?” tanyaku akhirnya
“namaku aini, kamu..?”
“aku Billi..!”
Cukup lama kami ngobrol, dan sepertinya kami sangat nyambung, hingga tak terasa waktu sudah memasuki maghrib. Kami berpisah tepat saat bumi berpisah dengan siang dihari ini.
itu adalah awal kedekatan kami. Hampir setiap sore kami bertemu dipantai ini, jadwal yang semula kurencanakan 2 minggu dikota ini, molor menjadi sebulan. Berkali-kali orang tuaku menghubungiku untuk segera kembali ke Manado, terlebih seminggu lalu aku resmi mengikat status dengannya. Membuatku semakin enggan meninggalkan Makassar.
***
Sore itu, kami duduk bersama dipantai losari, menikmati matahari, yang hari ini tertutupi awan tebal. Seperti biasa, pisang epe menemani senja kami. Tiga sendok sudah pisang itu habis dimulutku.
“kenapa kamu memilih aku jadi bagian hidupmu saat ini…?” aini tiba-tiba memberiku pertanyaan yang cukup membuatku bergidik.
“karena aku yakin Tuhan menakdirkan kamu untukku…!?” kataku tegas
“kenapa kamu sangat yakin…?”
“karena hatiku berkata itu, sekalipun Tuhan tidak menakdirkan kita, akan kubuat takdir itu menjadi kita, Billi dan aini…!!!”
“sekalipun kita berbeda keyakinan..?” dia lagi-lagi membuatku bingung, tapi dengan tenang aku berkata.
“yah, walaupun… bagiku cinta sejati tidak mengenal perbedaan, entah itu kaya miskin, tua muda, seagama atupun tidak…!!!”
Aini terdiam. Dia bungkam. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, yang pasti ada sesuatu yang membebani pikirannya.
“kamu baik-baik saja..?” tanyaku
Dia masih diam, tak menjawab pertanyaanku, membuatku bertambah bingung.
“kalo ada masalah cerita sama aku, siapa tau ajha aku bisa bantu…”
Cukup lama aini diam, “sebenar..”
“aini…!!” gertakan seorang wanita menghentikan perkataannya. Wajah aini yang tadinya memang berbeda semakin aneh dan bertambah pucat melihat dua orang wanita berdiri didekatnya dengan wajah sangat  marah.
“ummi..!!!” katanya dengan suara tercekat, sebuah tamparan mendarat dengan  mulus dipipinya yang putih dan halus itu.
“aini…” aku  memegangi bahunya yang terhempas kebelakang.
Tapi wanita yang disebutnya ummi menghempaskan tanganku dari bahunya, dia menunjukkiku dengan wajah sangat marah, dan mata yang memerah,
“jangan sentuh aini dengan tanganmu itu..” katanya meledak-ledak “aini tidak pantas berhubungan dengan lelaki seperti kamu. kamu lihat kerudung yang terpakai dikepalanya, dia seorang muslim, dia tidak pantas mengikat hubungan dengan pria berbeda agama seperti kamu…!” lanjutnya
“ummi sudah…” aini menarik-narik lengan ibunya berurai air mata.
“sudah  berapa kali ummi katakan, putuskan dia, jangan pernah berhubungan lagi dengan dia, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan ummi..”
“tapi aku mencintai dia ummi…”
PLAAKKK sekali lagi sebuah cap tangan menempel dipipinya, “cinta…!!! sampai matipun ummi tidak akan pernah merestui cinta kamu dengan dia… sekarang juga kamu ikut ummi pulang…!!!’ dengan kasar ibunya menariknya  pergi meninggalkanku.
Masih sangat jelas ditelingaku langkah kakinya yang diiringi isakan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.  ingin kukejar dia, tapi aku takut ibunya akan menamparnya lagi, tapi lima menit kemudian, jeritan aini melengking sangat keras, apa yang terjadi..!!! tanpa berpikir lagi aku berlari menghampirinya..
Kulihat aini telah berlumuran darah ditengah  jalan, sedang ibunya menangis ditrotoar. Badanku begitu lemas kakiku rasa-rasanya  tak sanggup lagi digerakkan. “aini..” namanya  entah sudah berapa kali terucap dibibirku. Tanpa kusadari aku sudah berada dihadapannya,  dengan tangan sangat gemetar aku memangku kepalanya yang sudah penuh darah diatas pahaku. 
“billi..” dia memegangi tanganku “aku tidak perduli perbedaan diantara kita, yang aku tahu aku mencintaimu saat ini, dan saat yang akan datang.” Katanya walau sangat susah
“plies jangan ngomong apa-apa… panggil ambulance…!” aku berteriak kepada semua orang yang mengeremuni kami.
Ibunya menghampiri kami, “aini… kamu bertahan nak…”
“ummi, maafkan aku, aku sayang ummi, tapi akupun tidak bisa kehilangan billi, ummi…”
“iya, terserah kamu nak, tapi ummi mohon kamu harus bertahan…!”
Aini menggenggam erat tanganku, “billi, kamu dengarkan kata ummi, dia merestui kita, aku mohon maafkan ummi, “
Aku mengangguk tak kuasa lagi mengeluarkan kata-kata.
“jika senja ini senja terakhir kita, aku mohon kamu jangan pernah menangisi kepergianku, tersenyumlah, ingat semua senja terindah kita, karena dengan begitu akupun akan tersenyum untukmu…!?” katanya semakin lemah.
“ummi, maafkan keputusan aini kali ini, aini sayang sama ummi…!!!” kata yang terakhir keuar dari bibirnya sebelum dia tidur untuk selamanya.
***
Masa sekarang…
Walau sejujurnya hari ini air mataku sangat ingin tumpah, karena senja itu  yang paling tidak bisa aku lupakan, tapi demi janjiku kepada gadis yang kucintai, semua air mata kukeringkan dengan kenangan indah diantara kami. Selamat jalan aini, selamat jalan kekasihku,  dirimu, cintamu dan kisah kita akan selalu abadi dalam hatiku…

by : wahyuni bohari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar