cerpen
Senja dikota daeng
Kita tidak akan
pernah tau pada siapa hati kita akan berlabuh, dengan siapa kita akan menjalani
takdir. Apakah dia hitam atau putih, kaya atau miskin, seagama atau tidak.
Semua itu rahasia. Kita hanya bisa menjalaninya dan menikmati setiap detik
takdir, dengan harapan akhir yang bahagia. Walau tak semua manusia bisa
mendapatkan akhir yang bahagia itu.
***
Sore
ini, aku duduk dipinggir pantai menikmati detik-detik tenggelamnya sang
surya. Membiarkan pikiran dan hatiku
melayang kemasa terindah dalam hidupku. Masa yang entah kapan akan terlupakan, Enam
tahun lalu, ditempat dan dijam yang sama seperti hari ini.
***
Enam tahun silam…
Aku baru tiba
dikota daeng ini, sepupu yang menjadi alasanku mengunjungi kota ini membawaku
kesebuah tempat , nama tempatnya pantai losari. Aku dan joni sepupuku menikmati
sunset pertamaku dikota Makassar. Tempat ini memang indah, tak salah jika
sepupuku sangat mengidolakan tempat ini.
Tempat ini
bertambah indah ketika seorang gadis berjilbab duduk di meja didepanku, awalnya
aku tidak terima kehadirannya dimeja itu karena dia menghalangi pemandanganku
melihat sunset, tapi binar matanya jauh
lebih indah dari pancaran matahari disenja hari, kekesalanku menguap begitu
saja. Dia sangat Cantik.
Tapi aku tidak
tahu siapa dia, bahkan joni yang katanya hampir setiap hari ketempat ini belum
pernah melihat dia. Rasa penasaran yang memuncak mendorongku untuk
menghampirinya yang duduk sendiri. Tapi belum sempat aku beranjak dari kursi,
joni menarikku terlebih dulu meninggalkan tempat itu, karena mamanya sudah
menyuruh kami pulang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30
sore, aku baru pulang dari pantai itu,
tepat didepan masjid ban motor joni yang
tadi kubawa kabur bocor, sialnya aku lupa membawa dompet dan handphonekupun
lobet…ahh, aku begitu kesal, kenapa aku seceroboh ini. harus bagaimana aku
sekarang, aku terdampar dikota yang baru sekali kukunjungi.
Ditengah keputus asaa’anku, aku
melihat seorang yang tidak asing dimataku, dia yang sudah hampir seminggu ini
kutunggui di pantai, tapi tak pernah aku temukan. dia adalah gadis cantik yang
duduk didepan mejaku.Dia berjalan keluar
masjid, dilengannya terlilit sebuah kain
putih. Dia berjalan kearahku yang kebetulan berdiri didepan gerbang. Tapi dia
berlalu begitu saja.
“maaf, apa kamu bisa menolongku…?”
kataku menghentikan dia yang sudah beberapa langkah didepanku, dia membalikkan
badannya memandangku.
“anda memanggil saya..?” katanya
lembut,
Aku mengangguk, menceritakan
kesialanku hari ini kepadanya, lalu dengan sangat malu (sebenarnya) aku meminta
meminjam handponenya. Entah kebetulan atau memang kesialanku dia juga lupa
membawa handphone, tapi tawarannya jauh lebih baik, dia meminjamkan uang untuk
menambal ban yang kempes itu.
“tapi saya tidak tahu letak
bengkelnya dimana, apa kamu bisa mengantar saya..?”
Dia tersenyum pertanda menyanggupi
permohonanku. Kami berjalan bersama menuju bengkel yang letaknya tidak jauh
dari masjid, Lima puluh ribu, menjadi utang dipertemuan kedua kita.
“bagaimana caraku mengembalikan
uang kamu…?” tanyaku saat ban motor sudah selesai diperbaiki.
“terserah kamu, lagi pula itu tidak
seberapa…!”
“bagaimana kalo besok jam 5 sore
dipantai losari…??” kataku sangat semangat.
“boleh juga” kata terakhirnya dihari itu
sebelum dia menghilang dihadapanku.
***
jam yang seharian kutunggui dengan
sangat gelisa akhirnya datang juga, aku menunggunya cukup lama dipantai, tapi
dia tak juga datang. Atau mungkin aku yang terlalu semangat hingga tak sadar
datang kecepatan. Entahlah, tapi penantianku usai saat kulihat dirinya berjalan
menghampiriku.
“ini uang yang kupinjam kemarin.
thanks yah..!” aku menyerahkan selembar uang lima puluh kehadapannya. Dia
tersenyum meraih uang itu.
“Mmm kalo boleh tau nama kamu
siapa..!?” tanyaku akhirnya
“namaku aini, kamu..?”
“aku Billi..!”
Cukup lama kami ngobrol, dan
sepertinya kami sangat nyambung, hingga tak terasa waktu sudah memasuki maghrib.
Kami berpisah tepat saat bumi berpisah dengan siang dihari ini.
itu adalah awal kedekatan kami.
Hampir setiap sore kami bertemu dipantai ini, jadwal yang semula kurencanakan 2
minggu dikota ini, molor menjadi sebulan. Berkali-kali orang tuaku menghubungiku
untuk segera kembali ke Manado, terlebih seminggu lalu aku resmi mengikat
status dengannya. Membuatku semakin enggan meninggalkan Makassar.
***
Sore itu, kami duduk bersama
dipantai losari, menikmati matahari, yang hari ini tertutupi awan tebal.
Seperti biasa, pisang epe menemani senja kami. Tiga sendok sudah pisang itu
habis dimulutku.
“kenapa kamu memilih aku jadi
bagian hidupmu saat ini…?” aini tiba-tiba memberiku pertanyaan yang cukup
membuatku bergidik.
“karena aku yakin Tuhan menakdirkan
kamu untukku…!?” kataku tegas
“kenapa kamu sangat yakin…?”
“karena hatiku berkata itu, sekalipun
Tuhan tidak menakdirkan kita, akan kubuat takdir itu menjadi kita, Billi dan
aini…!!!”
“sekalipun kita berbeda
keyakinan..?” dia lagi-lagi membuatku bingung, tapi dengan tenang aku berkata.
“yah, walaupun… bagiku cinta sejati
tidak mengenal perbedaan, entah itu kaya miskin, tua muda, seagama atupun
tidak…!!!”
Aini terdiam. Dia bungkam. Entah
apa yang ada dipikirannya saat ini, yang pasti ada sesuatu yang membebani
pikirannya.
“kamu baik-baik saja..?” tanyaku
Dia masih diam, tak menjawab
pertanyaanku, membuatku bertambah bingung.
“kalo ada masalah cerita sama aku,
siapa tau ajha aku bisa bantu…”
Cukup lama aini diam, “sebenar..”
“aini…!!” gertakan seorang wanita
menghentikan perkataannya. Wajah aini yang tadinya memang berbeda semakin aneh
dan bertambah pucat melihat dua orang wanita berdiri didekatnya dengan wajah
sangat marah.
“ummi..!!!” katanya dengan suara
tercekat, sebuah tamparan mendarat dengan
mulus dipipinya yang putih dan halus itu.
“aini…” aku memegangi bahunya yang terhempas kebelakang.
Tapi wanita yang disebutnya ummi
menghempaskan tanganku dari bahunya, dia menunjukkiku dengan wajah sangat
marah, dan mata yang memerah,
“jangan sentuh aini dengan tanganmu
itu..” katanya meledak-ledak “aini tidak pantas berhubungan dengan lelaki
seperti kamu. kamu lihat kerudung yang terpakai dikepalanya, dia seorang
muslim, dia tidak pantas mengikat hubungan dengan pria berbeda agama seperti
kamu…!” lanjutnya
“ummi sudah…” aini menarik-narik
lengan ibunya berurai air mata.
“sudah berapa kali ummi katakan, putuskan dia,
jangan pernah berhubungan lagi dengan dia, tapi kamu tidak pernah mau
mendengarkan ummi..”
“tapi aku mencintai dia ummi…”
PLAAKKK sekali lagi sebuah cap
tangan menempel dipipinya, “cinta…!!! sampai matipun ummi tidak akan pernah
merestui cinta kamu dengan dia… sekarang juga kamu ikut ummi pulang…!!!’ dengan
kasar ibunya menariknya pergi
meninggalkanku.
Masih sangat jelas ditelingaku
langkah kakinya yang diiringi isakan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. ingin kukejar dia, tapi aku takut ibunya akan
menamparnya lagi, tapi lima menit kemudian, jeritan aini melengking sangat
keras, apa yang terjadi..!!! tanpa berpikir lagi aku berlari menghampirinya..
Kulihat aini telah berlumuran darah
ditengah jalan, sedang ibunya menangis
ditrotoar. Badanku begitu lemas kakiku rasa-rasanya tak sanggup lagi digerakkan. “aini..”
namanya entah sudah berapa kali terucap
dibibirku. Tanpa kusadari aku sudah berada dihadapannya, dengan tangan sangat gemetar aku memangku
kepalanya yang sudah penuh darah diatas pahaku.
“billi..” dia memegangi tanganku
“aku tidak perduli perbedaan diantara kita, yang aku tahu aku mencintaimu saat
ini, dan saat yang akan datang.” Katanya walau sangat susah
“plies jangan ngomong apa-apa…
panggil ambulance…!” aku berteriak kepada semua orang yang mengeremuni kami.
Ibunya menghampiri kami, “aini…
kamu bertahan nak…”
“ummi, maafkan aku, aku sayang
ummi, tapi akupun tidak bisa kehilangan billi, ummi…”
“iya, terserah kamu nak, tapi ummi
mohon kamu harus bertahan…!”
Aini menggenggam erat tanganku,
“billi, kamu dengarkan kata ummi, dia merestui kita, aku mohon maafkan ummi, “
Aku mengangguk tak kuasa lagi
mengeluarkan kata-kata.
“jika senja ini senja terakhir
kita, aku mohon kamu jangan pernah menangisi kepergianku, tersenyumlah, ingat
semua senja terindah kita, karena dengan begitu akupun akan tersenyum
untukmu…!?” katanya semakin lemah.
“ummi, maafkan keputusan aini kali
ini, aini sayang sama ummi…!!!” kata yang terakhir keuar dari bibirnya sebelum
dia tidur untuk selamanya.
***
Masa sekarang…
Walau sejujurnya hari ini air
mataku sangat ingin tumpah, karena senja itu
yang paling tidak bisa aku lupakan, tapi demi janjiku kepada gadis yang
kucintai, semua air mata kukeringkan dengan kenangan indah diantara kami.
Selamat jalan aini, selamat jalan kekasihku,
dirimu, cintamu dan kisah kita akan selalu abadi dalam hatiku…
by : wahyuni bohari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar